Selamat datang di gubuk sederhana..

ini tempat aku berbagi..
merasa..
menikmati..
dan menghibur diri..

Total Pengunjung

Kamis, 15 Mei 2008

Dimana perbedaan hidup dan mati hanyalah setipis kertas..

Hikmah ini selain tugas dari rhie, kushare aja sebagai pengalaman hidup tanpa ada niatan tertentu.
"25 juli 1999"
Saat itu kuputuskan kembali ke ambon dan tidak jadi melanjutkan studi ku di makassar. Padahal aku sempat dipindahkan sejak peristiwa setengah tahun yang lalu. Walau apapun yang terjadi, bagiku kota ini adalah rahmat dan tempat aku dilahirkan. Singkat cerita, kami sekeluarga kembali ke rumah lama kami yang sebelumnya sempat terkena imbas kekacauan.
Saat itu begitu banyak berita atau kabar yang simpang siur beredar di telinga kami. Akhirnya pagi itu kami putuskan mengirim kembali keluarga kami yang wanita ke rumah famili kami yang lebih aman. Ayah udah pergi kerja sejak tadi dan berpesan lewat telp untuk aku dan pamanku, lelaki yang tersisa agar tetap waspada. Hari menjelang siang, tanpa kami berdua sadari suasana sudah agak memanas. Dari jauh sayup-sayup kudengar suara yang akrab kudengar setiap malam lebaran. Dengan agak panik, pamanku memutuskan untuk keluar dan kita berdua menyiapkan apa yang bisa dibawa. Saat kami mengintip di pintu depan, lemaslah kami melihat kenyataan bahwa keadaan di luar sungguh kacau dan kami benar2 tak bisa keluar. Kepanikan melanda pamanku hingga kami kembali mundur setelah mengunci pintu depan. Pamanku terus menerus menelpon keluarga kami untuk meminta pertolongan. Aku? Entahlah. Apa yang kurasakan saat itu seperti sesuatu yang kosong tak berisi. Aku merasa ajal kami sudah dekat. Dan aku tidak ingin sia-sia menghadapinya. Ayahku telp, katax beliau mencoba menerobos tetapi terhadang puluhan meter mendekati rumah kami. Ibu menelpon sambil menangis. Kata beliau jangan mati. Jangan mati. Hatiku luruh ingin menangis tapi tubuhku berkata jangan. Aku merasa aku mungkin akan mati. Tapi aku tak ingin sia-sia. Sesaat hening terjadi bercampur suara pamanku yang terus menerus menelpon tanpa henti dan diselingi dengusan gusarnya saat jawaban di telepon tidak memuaskan hatinya.
Menjelang siang..
Saat kami sedang duduk dalam kegelisahan. Tiba-tiba terdengar pagar rumah kami seperti terhantam benda keras. Dan muncullah suara-suara yang bersahutan di depan yang seakan-akan menggetarkan sudut rumah kami. Aku dan pamanku pun berdiri. Masing-masing kami berdiri seakan kami telah siap menghadapi apa yang akan terjadi. Sesaat tubuhku mati rasa. Bisa kurasakan satu demi satu pintu terhentak kasar di depan kami. Aku dan pamanku pun berzikir memohon ridha Allah untuk kami.
Tiba-tiba ada suara memanggil dari arah dapur. Ternyata tetanggaku memanggil dari jendela dapur rumah kami yang memang tepat berada di belakang rumah mereka. Dia menyuruh kami melompat ke rumahnya. Pamanku kemudian menarikku dan kita melompati jendela itu, tepat saat aku mendengar pintu ruang tengah kami terhentak juga. Walhasil kami berlindung di rumah tetanggaku. Awalnya kami berteduh di kamar kost cewek yang ada di rumah tetanggaku itu. Ampun deh, saat kami diajak cerita, pakaian dua orang cewek itu seksi amat. Ahahah. Jadi gelisah. :D
Sementara kudengar suara rumah kami yang sedang diobrak-abrik. Hiks.
Tak berselang lama, kerumunan massa juga mulai merambah rumah sekitarnya termasuk rumah tetanggaku. Mereka kemudian mengajak kami ke lantai atas di kamar tetanggaku yang cowok ini, dan kemudian naik ke plafon kamarnya. Jadi mirip tikus. :(
tak lama mereka memeriksa rumah tetanggaku hingga memasuki kamar tempat kami berlindung di plafonnya, tapi alhamdulillah kami masih dilindungi oleh Allah hingga mereka pergi. Kami pun sempat turun dan nonton tv serta disuguhi mie instan. Bayangkan! :D
karena situasinya masih rawan, kami dianjurkan untuk menunggu malam tiba untuk keluar. Kebetulan saat itu hujan. Pas setelah maghrib saat kami sedang nonton telenovela, ;))
kami putuskan untuk keluar saat hujan rintik. Kami siapkan jaket yang tebal untuk menyelubungi tubuh dan topi untuk wajah. Bismillah, kami berjalan keluar diiringi doa dan tangisan tetangga kami yang melepas kepergian kami. Jarak antara rumah tetangga kami dan tempat yang kami tuju hanya berkisar 3 km. Tapi terasa jauh sekali. Mungkin karena yang melangkahkan kaki saat itu adalah hati. Jadi mungkin terselingi beban. Halah. :D
Sepanjang kami berjalan di tengah jalan, maklum lalu lintas kagak ade. Maka di kiri kanan kami terlihat banyak orang yang berkerumun dan nyala api dari kendaraan-kendaraan yang terbakar. Kami hanya bisa berjalan sambil berzikir apa saja yang bisa kami ingat. Entahlah, mungkin pandangan mata mereka tertutupi, tapi alhamdulillah akhirnya kami sampai ke batas tujuan kami diiringi sesal mereka yang terlambat menyadari. Udah gitu aku sempat ditodong syahadat dibawah ancaman senjata. Ampun deh. :s
alhamdulillah lancar. Jalan lagi tak lama akhirnya ketemu ayahku yang menunggu dari tadi. Beliau memelukku dan terharu. Aku sih agak canggung dipeluk laki-laki. :D
aku disuruh ke rumah familiku ditunggu ibu, sedang pamanku menemani ayah. Sampai di rumah, aku disambut tangisan adik-adik dan keluargaku yang lain. Hatiku sedikit tersentuh. Kucari ibuku. Ternyata beliau terbaring lemah di tempat tidur dan menangis melihatku. Saat itu baru meledaklah bendungan tangisku dan memeluk beliau erat-erat. Saat itu baru aku sadari betapa besar rasa sayang keluargaku terhadapku. Dan sejak itu aku ingin menjaga mereka hingga nanti. Alhamdulillah peristiwa ini menjadi hikmah yang tak terhingga dan jadi pegangan untuk hidupku ke depannya.
"Maka maha suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu... (QS. Ya Sin : 83)

15 komentar:

  1. Kotak-kotak apaan tuh? Gak ngerti. :s
    btw, kisahku ini tak bertendensi apa-apa selain hikmah dalam hidupku. Itu aja. :)

    BalasHapus
  2. af1 ni pake font arabic, antum install dulu font arab biar keliatan ^_^

    BalasHapus
  3. Oh. Haha. Maklum ni pake hp aja. Biar praktis. :)

    BalasHapus
  4. alhamdulillah....belum terdapat dalam list malaikat izrailwaktu itu ya ka :D...
    taun 1999 rhie masih smp, ga tau apa2

    BalasHapus
  5. Sengaja. Alpa gak pake surat sakit, rhie. Ahahah. :D

    BalasHapus
  6. tapi ko sempetnya2nya nnton telenovela sama merhatiin baju tuh ce..
    ckckkckck pletaakk!!!

    BalasHapus
  7. bacanya udah terharu, deg-degan, ngeri....eh..sampe kalimat ini bikin ketawa..:))

    BalasHapus
  8. Gegegege..
    Hanya sekilas info tanpa maksud apapun. Wadaw!! Kok dijitak?! :s

    BalasHapus
  9. Gegegege..
    Hanya sekilas info tanpa maksud apapun. Wadaw!! Kok dijitak?! :s

    BalasHapus
  10. Entahlah ma. Skrang bru ingatan gw bsa fokus. Waktu itu mah gak kepikiran. Biar gak tegang lah. Hwehehe. :D

    BalasHapus
  11. hmmmm

    cerita bagus..tp...ada tapinya...

    BalasHapus
  12. Maka maha suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu...

    alhamdulillah ..bila ini tetep dijadikan pegangan .

    kakaku top dech

    BalasHapus
  13. jujur aku gak baca artikel you!!
    tapi yang gue pertanyakan adalah sesuatu yang rumit bagi gue!!!

    apakah emang nich, yang dinamakan hidup???

    and apakah orang yang gak bernyawa dapat dikatakan mati?????????????

    apakah benar begituchhhhhhhhh,,,,,,,,,,,,,,,,yach,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,??????????????

    gue tanya gue, terus akunya tanya sapa???

    apa tanya you???

    BalasHapus