Dari semalam ampe pagi aku gak bisa tidur. Susah banget. Entah gelisah mulu dari tadi. Semua bermula dari tadi malam saat aku jalan-jalan pake motor sekedar refreshing. Jalanan tadi malam rame banget ma kendaraan. Banyak yang kebut-kebutan. Maklum, lalu lintasnya satu arah. Aku sendiri jalannya ya biasa aja, gak cepet amat tapi juga gak kayak siput deh. Nah, pas depan swalayan yang lumayan rame, sekilas aku denger suara seseorang yang seakan mengusir sesuatu dari jualannya di tepi jalan. Hush! Hush! Refleks sekilas aku melihat kelebatan bayangan sosok yang berlari melangkahi antara dua roda motorku. Deg! Aku ngerasa ada sesuatu yang terjadi seiring perasaanku yg gak enak. Begitu cepat. Gak bisa kukendalikan. Sempat kutoleh ke belakang, masya Allah dari kejauhan terlihat sesuatu yang tergeletak di tengah jalan. Kucing! Batinku. Pasti! Mendadak pikiranku kosong. Tapi jalanan yang ada tak memungkinkanku untuk berhenti. Aku harus memutar. Pikiranku agak kalut dan sedih. Akhirnya aku berhenti sebentar buat beli tas kresek. Kebetulan aku punya kain putih di jok motorku. Trus setelah aku memutar diantara keramaian, gak ada apapun. Kutanya orang sekitar, katanya udah dibawa. Tapi mereka gak tau kemana. Akhirnya aku pergi dengan tangan hampa. Teringat baru pertama kalinya aku menabrak seekor kucing, aku jadi sedih banget. Padahal kucing adalah hewan favoritku sejak kecil. Sampe rumah aku terus gelisah dan hanya bisa terus berdoa memohon ampunan Allah akan khilafku. Bahkan ampe mimpi yang nggak-nggak. :((
Ya Allah, ampunilah khilafku. Sesungguhnya hanya Engkaulah yang maha adil lagi maha bijaksana. Maafkan aku kucing, semoga arwahmu tenang di alam sana. Amin.
*dedicated to unknown cat wherever u are*
Selamat datang di gubuk sederhana..
ini tempat aku berbagi..
merasa..
menikmati..
dan menghibur diri..
merasa..
menikmati..
dan menghibur diri..
Total Pengunjung
Selasa, 27 Mei 2008
Senin, 19 Mei 2008
Kenapa harus Riya'...?!
Riya' adalah mencari kemegahan dan kedudukan dengan berselubungkan ibadah. Riya' adalah haram hukumnya, dan pelakunya berhak memperoleh murka di sisi Allah SWT.
Tidak akan menyombongkan diri melainkan orang yang mengagungkan dirinya disebabkan keyakinan adanya sifat-sifat kesempurnaan keagamaan dan kesempurnaan duniawi. Ada tujuh perkara yang merupakan sebab-sebab timbulnya kesombongan.
1. Ilmu.
Kesombongan itu mudah sekali menghinggapi sebagian orang alim. Baru saja merasakan di dalam hatinya ada kesempurnaan ilmu, ia sudah mengagungkan dirinya dan menganggap dirinya lebih utama di sisi Allah SWT.
2. Amal dan Ibadah.
Amal dan ibadah tidak akan bebas dari hinanya kesombongan dan kecenderungan hati manusia dalam urusan agama dan dunianya.
Yang menyangkut urusan dunia adalah bahwa mereka sangat mengharap disebutnya mereka sebagai orang yang wara' dan bertakwa dibanding orang lain.
Yang menyangkut urusan agama adalah, menganggap sekalian manusia termasuk orang-orang yang celaka, dan sebaliknya menganggap diri sendiri sebagai orang yang selamat.
3. Nasab (Keturunan)
Seseorang yang memiliki nasab mulia ada kalanya menganggap rendah orang yang tidak bernasab demikian, sekalipun orang yang direndahkan ini sebenarnya lebih tinggi amal dan ilmunya.
4. Membanggakan keindahan fisik.
Ini kebanyakan dilakukan oleh perempuan dan laki-laki yang merasa memiliki kelebihan fisik dalam hal kecantikan maupun ketampanan. Dan ini akan mendorong mereka suka mengghibah dan menyebut-nyebut kekurangan, cela dan cacat orang lain.
5. Membanggakan harta.
Ini banyak terjadi di kalangan penguasa dan pedagang. Seperti yang tampak pada pakaian, perhiasan dan kendaraan yang mereka gunakan.
6. Kekuatan dan keperkasaan.
Kebanggaan memiliki kekuatan dan keperkasaan ini menyebabkan seseorang suka menyombongkan diri terhadap orang-orang yang lemah dan tak berdaya.
7. Banyak pengikut.
Kebanggaan memiliki banyak pengikut, penolong, keluarga dan karib kerabat juga merupakan penyebab timbulnya kesombongan.
Demikian perkara-perkara yang dengannya manusia menyombongkan diri satu dengan lainnya. Padalah siapalah kita manusia dibandingkan Allah?
"Binasalah manusia; alangkah amat sangat kefakirannya. Dari apakah Allah menciptakannya? Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentukannya. Kemudian Dia memudahkan jalannya. Kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur, kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali." (QS. 'Abasa : 17-22).
Jadi, kenapa harus Riya'...?!
Kamis, 15 Mei 2008
Dimana perbedaan hidup dan mati hanyalah setipis kertas..
Hikmah ini selain tugas dari rhie, kushare aja sebagai pengalaman hidup tanpa ada niatan tertentu.
"25 juli 1999"
Saat itu kuputuskan kembali ke ambon dan tidak jadi melanjutkan studi ku di makassar. Padahal aku sempat dipindahkan sejak peristiwa setengah tahun yang lalu. Walau apapun yang terjadi, bagiku kota ini adalah rahmat dan tempat aku dilahirkan. Singkat cerita, kami sekeluarga kembali ke rumah lama kami yang sebelumnya sempat terkena imbas kekacauan.
Saat itu begitu banyak berita atau kabar yang simpang siur beredar di telinga kami. Akhirnya pagi itu kami putuskan mengirim kembali keluarga kami yang wanita ke rumah famili kami yang lebih aman. Ayah udah pergi kerja sejak tadi dan berpesan lewat telp untuk aku dan pamanku, lelaki yang tersisa agar tetap waspada. Hari menjelang siang, tanpa kami berdua sadari suasana sudah agak memanas. Dari jauh sayup-sayup kudengar suara yang akrab kudengar setiap malam lebaran. Dengan agak panik, pamanku memutuskan untuk keluar dan kita berdua menyiapkan apa yang bisa dibawa. Saat kami mengintip di pintu depan, lemaslah kami melihat kenyataan bahwa keadaan di luar sungguh kacau dan kami benar2 tak bisa keluar. Kepanikan melanda pamanku hingga kami kembali mundur setelah mengunci pintu depan. Pamanku terus menerus menelpon keluarga kami untuk meminta pertolongan. Aku? Entahlah. Apa yang kurasakan saat itu seperti sesuatu yang kosong tak berisi. Aku merasa ajal kami sudah dekat. Dan aku tidak ingin sia-sia menghadapinya. Ayahku telp, katax beliau mencoba menerobos tetapi terhadang puluhan meter mendekati rumah kami. Ibu menelpon sambil menangis. Kata beliau jangan mati. Jangan mati. Hatiku luruh ingin menangis tapi tubuhku berkata jangan. Aku merasa aku mungkin akan mati. Tapi aku tak ingin sia-sia. Sesaat hening terjadi bercampur suara pamanku yang terus menerus menelpon tanpa henti dan diselingi dengusan gusarnya saat jawaban di telepon tidak memuaskan hatinya.
Menjelang siang..
Saat kami sedang duduk dalam kegelisahan. Tiba-tiba terdengar pagar rumah kami seperti terhantam benda keras. Dan muncullah suara-suara yang bersahutan di depan yang seakan-akan menggetarkan sudut rumah kami. Aku dan pamanku pun berdiri. Masing-masing kami berdiri seakan kami telah siap menghadapi apa yang akan terjadi. Sesaat tubuhku mati rasa. Bisa kurasakan satu demi satu pintu terhentak kasar di depan kami. Aku dan pamanku pun berzikir memohon ridha Allah untuk kami.
Tiba-tiba ada suara memanggil dari arah dapur. Ternyata tetanggaku memanggil dari jendela dapur rumah kami yang memang tepat berada di belakang rumah mereka. Dia menyuruh kami melompat ke rumahnya. Pamanku kemudian menarikku dan kita melompati jendela itu, tepat saat aku mendengar pintu ruang tengah kami terhentak juga. Walhasil kami berlindung di rumah tetanggaku. Awalnya kami berteduh di kamar kost cewek yang ada di rumah tetanggaku itu. Ampun deh, saat kami diajak cerita, pakaian dua orang cewek itu seksi amat. Ahahah. Jadi gelisah. :D
Sementara kudengar suara rumah kami yang sedang diobrak-abrik. Hiks.
Tak berselang lama, kerumunan massa juga mulai merambah rumah sekitarnya termasuk rumah tetanggaku. Mereka kemudian mengajak kami ke lantai atas di kamar tetanggaku yang cowok ini, dan kemudian naik ke plafon kamarnya. Jadi mirip tikus. :(
tak lama mereka memeriksa rumah tetanggaku hingga memasuki kamar tempat kami berlindung di plafonnya, tapi alhamdulillah kami masih dilindungi oleh Allah hingga mereka pergi. Kami pun sempat turun dan nonton tv serta disuguhi mie instan. Bayangkan! :D
karena situasinya masih rawan, kami dianjurkan untuk menunggu malam tiba untuk keluar. Kebetulan saat itu hujan. Pas setelah maghrib saat kami sedang nonton telenovela, ;))
kami putuskan untuk keluar saat hujan rintik. Kami siapkan jaket yang tebal untuk menyelubungi tubuh dan topi untuk wajah. Bismillah, kami berjalan keluar diiringi doa dan tangisan tetangga kami yang melepas kepergian kami. Jarak antara rumah tetangga kami dan tempat yang kami tuju hanya berkisar 3 km. Tapi terasa jauh sekali. Mungkin karena yang melangkahkan kaki saat itu adalah hati. Jadi mungkin terselingi beban. Halah. :D
Sepanjang kami berjalan di tengah jalan, maklum lalu lintas kagak ade. Maka di kiri kanan kami terlihat banyak orang yang berkerumun dan nyala api dari kendaraan-kendaraan yang terbakar. Kami hanya bisa berjalan sambil berzikir apa saja yang bisa kami ingat. Entahlah, mungkin pandangan mata mereka tertutupi, tapi alhamdulillah akhirnya kami sampai ke batas tujuan kami diiringi sesal mereka yang terlambat menyadari. Udah gitu aku sempat ditodong syahadat dibawah ancaman senjata. Ampun deh. :s
alhamdulillah lancar. Jalan lagi tak lama akhirnya ketemu ayahku yang menunggu dari tadi. Beliau memelukku dan terharu. Aku sih agak canggung dipeluk laki-laki. :D
aku disuruh ke rumah familiku ditunggu ibu, sedang pamanku menemani ayah. Sampai di rumah, aku disambut tangisan adik-adik dan keluargaku yang lain. Hatiku sedikit tersentuh. Kucari ibuku. Ternyata beliau terbaring lemah di tempat tidur dan menangis melihatku. Saat itu baru meledaklah bendungan tangisku dan memeluk beliau erat-erat. Saat itu baru aku sadari betapa besar rasa sayang keluargaku terhadapku. Dan sejak itu aku ingin menjaga mereka hingga nanti. Alhamdulillah peristiwa ini menjadi hikmah yang tak terhingga dan jadi pegangan untuk hidupku ke depannya.
"Maka maha suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu... (QS. Ya Sin : 83)
"25 juli 1999"
Saat itu kuputuskan kembali ke ambon dan tidak jadi melanjutkan studi ku di makassar. Padahal aku sempat dipindahkan sejak peristiwa setengah tahun yang lalu. Walau apapun yang terjadi, bagiku kota ini adalah rahmat dan tempat aku dilahirkan. Singkat cerita, kami sekeluarga kembali ke rumah lama kami yang sebelumnya sempat terkena imbas kekacauan.
Saat itu begitu banyak berita atau kabar yang simpang siur beredar di telinga kami. Akhirnya pagi itu kami putuskan mengirim kembali keluarga kami yang wanita ke rumah famili kami yang lebih aman. Ayah udah pergi kerja sejak tadi dan berpesan lewat telp untuk aku dan pamanku, lelaki yang tersisa agar tetap waspada. Hari menjelang siang, tanpa kami berdua sadari suasana sudah agak memanas. Dari jauh sayup-sayup kudengar suara yang akrab kudengar setiap malam lebaran. Dengan agak panik, pamanku memutuskan untuk keluar dan kita berdua menyiapkan apa yang bisa dibawa. Saat kami mengintip di pintu depan, lemaslah kami melihat kenyataan bahwa keadaan di luar sungguh kacau dan kami benar2 tak bisa keluar. Kepanikan melanda pamanku hingga kami kembali mundur setelah mengunci pintu depan. Pamanku terus menerus menelpon keluarga kami untuk meminta pertolongan. Aku? Entahlah. Apa yang kurasakan saat itu seperti sesuatu yang kosong tak berisi. Aku merasa ajal kami sudah dekat. Dan aku tidak ingin sia-sia menghadapinya. Ayahku telp, katax beliau mencoba menerobos tetapi terhadang puluhan meter mendekati rumah kami. Ibu menelpon sambil menangis. Kata beliau jangan mati. Jangan mati. Hatiku luruh ingin menangis tapi tubuhku berkata jangan. Aku merasa aku mungkin akan mati. Tapi aku tak ingin sia-sia. Sesaat hening terjadi bercampur suara pamanku yang terus menerus menelpon tanpa henti dan diselingi dengusan gusarnya saat jawaban di telepon tidak memuaskan hatinya.
Menjelang siang..
Saat kami sedang duduk dalam kegelisahan. Tiba-tiba terdengar pagar rumah kami seperti terhantam benda keras. Dan muncullah suara-suara yang bersahutan di depan yang seakan-akan menggetarkan sudut rumah kami. Aku dan pamanku pun berdiri. Masing-masing kami berdiri seakan kami telah siap menghadapi apa yang akan terjadi. Sesaat tubuhku mati rasa. Bisa kurasakan satu demi satu pintu terhentak kasar di depan kami. Aku dan pamanku pun berzikir memohon ridha Allah untuk kami.
Tiba-tiba ada suara memanggil dari arah dapur. Ternyata tetanggaku memanggil dari jendela dapur rumah kami yang memang tepat berada di belakang rumah mereka. Dia menyuruh kami melompat ke rumahnya. Pamanku kemudian menarikku dan kita melompati jendela itu, tepat saat aku mendengar pintu ruang tengah kami terhentak juga. Walhasil kami berlindung di rumah tetanggaku. Awalnya kami berteduh di kamar kost cewek yang ada di rumah tetanggaku itu. Ampun deh, saat kami diajak cerita, pakaian dua orang cewek itu seksi amat. Ahahah. Jadi gelisah. :D
Sementara kudengar suara rumah kami yang sedang diobrak-abrik. Hiks.
Tak berselang lama, kerumunan massa juga mulai merambah rumah sekitarnya termasuk rumah tetanggaku. Mereka kemudian mengajak kami ke lantai atas di kamar tetanggaku yang cowok ini, dan kemudian naik ke plafon kamarnya. Jadi mirip tikus. :(
tak lama mereka memeriksa rumah tetanggaku hingga memasuki kamar tempat kami berlindung di plafonnya, tapi alhamdulillah kami masih dilindungi oleh Allah hingga mereka pergi. Kami pun sempat turun dan nonton tv serta disuguhi mie instan. Bayangkan! :D
karena situasinya masih rawan, kami dianjurkan untuk menunggu malam tiba untuk keluar. Kebetulan saat itu hujan. Pas setelah maghrib saat kami sedang nonton telenovela, ;))
kami putuskan untuk keluar saat hujan rintik. Kami siapkan jaket yang tebal untuk menyelubungi tubuh dan topi untuk wajah. Bismillah, kami berjalan keluar diiringi doa dan tangisan tetangga kami yang melepas kepergian kami. Jarak antara rumah tetangga kami dan tempat yang kami tuju hanya berkisar 3 km. Tapi terasa jauh sekali. Mungkin karena yang melangkahkan kaki saat itu adalah hati. Jadi mungkin terselingi beban. Halah. :D
Sepanjang kami berjalan di tengah jalan, maklum lalu lintas kagak ade. Maka di kiri kanan kami terlihat banyak orang yang berkerumun dan nyala api dari kendaraan-kendaraan yang terbakar. Kami hanya bisa berjalan sambil berzikir apa saja yang bisa kami ingat. Entahlah, mungkin pandangan mata mereka tertutupi, tapi alhamdulillah akhirnya kami sampai ke batas tujuan kami diiringi sesal mereka yang terlambat menyadari. Udah gitu aku sempat ditodong syahadat dibawah ancaman senjata. Ampun deh. :s
alhamdulillah lancar. Jalan lagi tak lama akhirnya ketemu ayahku yang menunggu dari tadi. Beliau memelukku dan terharu. Aku sih agak canggung dipeluk laki-laki. :D
aku disuruh ke rumah familiku ditunggu ibu, sedang pamanku menemani ayah. Sampai di rumah, aku disambut tangisan adik-adik dan keluargaku yang lain. Hatiku sedikit tersentuh. Kucari ibuku. Ternyata beliau terbaring lemah di tempat tidur dan menangis melihatku. Saat itu baru meledaklah bendungan tangisku dan memeluk beliau erat-erat. Saat itu baru aku sadari betapa besar rasa sayang keluargaku terhadapku. Dan sejak itu aku ingin menjaga mereka hingga nanti. Alhamdulillah peristiwa ini menjadi hikmah yang tak terhingga dan jadi pegangan untuk hidupku ke depannya.
"Maka maha suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu... (QS. Ya Sin : 83)
Langganan:
Komentar (Atom)