Selamat datang di gubuk sederhana..

ini tempat aku berbagi..
merasa..
menikmati..
dan menghibur diri..

Total Pengunjung

Jumat, 28 Maret 2008

3 dalam 1 keyakinan

Setelah sekian lama berjalan, dengan terpaksa kuhempaskan tubuhku ke hamparan pasir tepat di depan gulungan ombak pantai yang berkejaran tanpa henti..
Letih..
Kupalingkan wajahku karena tiupan angin yang terasa agak mengganggu pandanganku hingga tanpa sengaja mataku tertumbuk pada satu sosok yang sedang duduk tertegun sambil memandang ke kejauhan..
Entahlah, mungkin dia sedang memikirkan sesuatu..
Atau sedang menunggu seseorang kah..?
Senyum kecutku menyadarkanku bahwa tidak semestinya aku terlalu mencari tahu tentang masalah orang lain..
Hmm..
Tapi untuk mengenalinya secara umum bolehlah..
Batinku berkata sambil ngeles.. Hehe..
"sedang menunggu seseorang..?"
sejenak dia menoleh saat terasa sapaanku yang terdengar jelas ditelinganya seiring langkahku mendekatinya.
"lagi asik liatin temen, kak." dia menjawab sambil memandangku sekilas.
"mana temenmu?" ujarku sambil menoleh ke arah pandangannya yang tak berubah banyak sejak tadi.
"tuh, kak."
kususuri arah tangannya yang menunjuk tepat ke arah pantai berhadapan dengan posisiku duduk.
"oh." ujarku sambil memandang tiga sosok yang sedang tertawa-tawa berlarian bercanda riang dengan semangat 45.
Hehe, begitu menikmati suasana ya. Tak terlihat adanya keterpaksaan di wajah-wajah mereka, gumamku.
"kamu gak bergabung ma mereka?" tanyaku.
"lagi pengen duduk aja kak. Dengan memandangi mereka sudah turut membuatku seneng." jelasnya.
Gile, ni anak filosofis juga. Gumamku.
"kita biasanya selalu bersama. Tapi akhir-akhir ini kita jarang berbagi waktu bersama. Kita memang tetap bersama. Tapi kadang hati kita gak bersama-sama." jelasnya lagi.
Kupandangi wajahnya. Agak terlihat jelas kegundahan di wajahnya seakan-akan sedang menyimpan sesuatu. Pandangan matanya pun menjadi sendu.
"kenapa begitu?" ujarku.
"kelihatannya temen-temenmu have fun aja. Dan kamu juga gitu kan?"
Senyum tipis sekilas menghiasi wajahnya.
"kak, dalam hidup ini kadang kita bahagia. Kadang kita sedih. Siapa yang slalu ada untuk kita?"
"keluarga?"
"sahabat?"
"lalu, untuk apa kebahagiaan itu?"
"untuk siapa sedih itu?"
Kupandangi kembali ketiga temannya yang sedang asyik bermain sambil menunggu kelanjutan omongannya.
"kita semua pasti ingin tetap bahagia. Katakanlah untuk merasakan bahagia, kita punya tiga sel rasa untuk membentuk organ kebahagiaan itu. Yaitu cinta, kasih dan sayang."
kutoleh sebentar pandanganku kearahnya. Kuhela napasku sesaat.
"kak, jika tidak ada cinta di hati kita, apa artinya suatu persahabatan? Kasih dan sayang akan merasa kehilangannya.
Dan jika kita hanya merasakan kasih, untuk apa rasa kasih itu jika tidak membentuk rasa cinta kepada orang lain dan menyayangi mereka?
Begitu juga jika hanya sayang yang memenuhi hati. Sayang untuk apakah jika rasa cinta dan kasih juga telah lenyap."
kasian juga, gumamku. Mungkin tidak akan ada keinginan yang akan terwujud jika salah satu dari mereka hilang.
"tapi jika hanya ada cinta, bukankah itu bisa merupakan nafsu belaka?
Atau jika hanya ada kasih di hati, ikhlaskah rasa itu.
Dan begitupun juga jika hanya ada sayang, tak terasa ada sedikitpun yang akan membekas dalam jiwa." perlahan dia berdiri sambil tersenyum sejenak.
"itulah uniknya sahabat sejati. Bagaikan rantai yang tak terpisahkan oleh ego atau emosi jiwa. Rantai akan terasa sesak jika dipasang pada sesuatu yang besar. Dan ia akan terlihat longgar jika terpasang pada sesuatu yang kecil. Tergantung dimana kita berada. Tergantung seberapa kuat dan lemah nilai persahabatan, tapi rantai adalah rantai. Jika tiga sel tadi tetap bersama, niscaya dia tidak akan pernah putus." jelasnya.
"sahabat selalu ada saat dibutuhkan. Dan dia juga ada saat membutuhkan. Sahabat tidak pernah memaksa. Sahabat selalu menemani dalam kesedihan. Tertawa dalam kebahagiaan. Sahabat bisa meletakkan dirinya di depan orang yang disayanginya. Membiarkan tubuhnya sebagai tameng yang melindungi dari hujan maupun angin. Dan jika dia marah, niscaya marahnya hanyalah untuk perbaikan diri. Dan setelah kemarahannya usai, dia akan menyesalinya."
Aku tersenyum sejenak menyimaknya.
Ah, alangkah bijaknya dia. Aku jadi teringat sendiri akan nasib persahabatanku yang terancam hancur berantakan.
"jika tidak ada cinta, persahabatan akan terasa hambar."
"Jika tidak ada kasih, persahabatan tidak akan bermakna."
"Jika tidak ada sayang, maka hilanglah makna persahabatan itu sendiri."
"Tapi jika ketiganya selalu ada mengiringi langkah persahabatan ini, maka akulah yang akan muncul terakhir kali untuk melengkapi semuanya."
Sejenak dia tertawa renyah saat pandanganku terlihat agak heran mendengar kata-katanya barusan."
"hehe, karena itu kak. Kadang dengan melihat mereka bersama, kesenangan itu sudah cukup bagiku. Karena bagiku, mereka bertiga itulah cinta, kasih dan sayang yang selalu mengiringi perjalanan hidupku. Senang maupun sedih."
Aku menjadi agak tersadar oleh kata-katanya. Betapa belum berartinya aku untuk memperjuangkan persahabatan yang kujalani selama ini. Terlalu banyak putus asa.
Kupandangi dia terakhir kali saat dia mulai beranjak menyusul teman-temannya yang mulai memanggilnya untuk datang.
"Jika mereka adalah sahabat-sahabat yang kamu kasihi, jika mereka adalah cinta, kasih dan sayang bagimu. Lalu siapakah kamu?"
Dia berbalik dan berkata sambil tersenyum manis.
"Kebahagiaan."
Kupandangi sosoknya yang mulai menjauh dan menjauh. Hm, tularkan kebahagiaanmu itu dik. Karena aku sungguh-sungguh belajar ketulusan itu dari hatimu. Semoga persahabatan kalian abadi, gumamku sambil berdiri.
Sore itu terasa agak dingin. Kuputuskan untuk berlalu pergi.

32 komentar:

  1. Smoga persaudaraan kita abadi ka..;)

    insyallah..ammien

    BalasHapus
  2. aku jd bertanya, siapa sebenarnya diriku ini?

    BalasHapus
  3. Nah lho ce ut..?! 2 + 2 = brapa, ce? :D

    BalasHapus
  4. dan setiap orang punya cara tersendiri untuk mecintai, menyayangi dan membahagiakan sahabatnya....
    meski dipandang salah dan sebelah mata krn cara yg d tempuhnya...
    "tangan kirinya tak pernah tau apa yg diberikan tangan kanan untuk sahabatnya"

    wallahu'alam

    BalasHapus
  5. yup..setuju ama rhie..setujuuu..siiip..
    setiap hubungan, apapun bntuknya pst ada riak2 yg mengiringi,
    mari blajar dr kesalahan2 masa lalu, dan smg kita snantiasa dpt mengambil hikmah dr setiap kejadian, amiiin...
    frienship forever...

    BalasHapus
  6. Betul rhie..
    Banyak jalan menuju roma.. :)

    BalasHapus
  7. Iya ma..
    Belajar dari pengalaman..
    Belajar untuk lebih dewasa..
    Forever friends..
    Forever sisters/brothers..

    BalasHapus
  8. Iya ma..
    Belajar dari pengalaman..
    Belajar untuk lebih dewasa..
    Forever friends..
    Forever sisters/brothers..

    BalasHapus
  9. Iya ma..
    Belajar dari pengalaman..
    Belajar untuk lebih dewasa..
    Forever friends..
    Forever sisters/brothers..

    BalasHapus
  10. hehehe...jgn2 orgnya jg error neh...:-p

    BalasHapus
  11. hehe gimana kalo chocolate forever..;D

    BalasHapus
  12. rapet2..terus warna tulisannya rada item..jadi rada kurang enak bacanya..
    maaf ya mas...

    BalasHapus
  13. Coklat mulu syah? Tuh pipi tembem lagi ntar. :D

    BalasHapus
  14. Iya yud. Maaf ya. Namax juga pake hp. Jadi gak bisa diatur. Coba aja setulusx, kali aja hurupx jadi gede. :d

    BalasHapus
  15. ^_^ indahnya persahabatan....bahagia ya kak

    BalasHapus
  16. Kaca matamu ketinggalan, ib.. :D

    BalasHapus
  17. Ais bahagia gak punya sahabat..? ;)

    BalasHapus
  18. Alangkah indah dan bahagianya jika aku bisa menjadi seorang sahabat..

    BalasHapus
  19. Wah jadi ingat Sahabat2 saya. Saling menyayangi dan mencintai karena Allah.
    Walau kaga ada duit, tp punya satu sahabat aja rasa nya jadi manusia paling kaya. (coz bisa minjem duit maksud nya ^^)

    BalasHapus
  20. Sapa bilang bisa?
    Sahabat.. Dimana engkau kini?
    I miss u

    BalasHapus