Selamat datang di gubuk sederhana..
ini tempat aku berbagi..
merasa..
menikmati..
dan menghibur diri..
merasa..
menikmati..
dan menghibur diri..
Total Pengunjung
Jumat, 12 Desember 2008
Rabu, 29 Oktober 2008
Ada apa dengan tua..??
Kutatap kembali cermin di depanku..
Masih terlihat jelas gurat-gurat kepenatan yang setia menghiasi wajahku sejak beberapa hari kemarin..
Guratan kulit yang dikalahkan oleh waktu..
Semakin tuakah aku..?
Senyum yang terlihat agak tidak teratur..
Rambut yang semakin memutih satu demi satu..
Letih dalam melangkah..
Semakin tuakah aku..?
Cermin..
Tunjukkan aku kehidupanku selama ini..
Tunjukkan aku apa yang telah kulakukan selama ini..
Istriku yang cantik yang selalu menemani..
Anak-anakku yang telah berhasil mencapai tujuan mereka..
Teringat saat susah kita merangkak bersama..
Sudah seharusnya bahagia kita rasakan bersama..
Apa lagi yang kucari..?
Apa lagi yang kuingini..?
Cermin..
Kenapa harus ada bayangan indah lain yang kau pantulkan ke hadapanku..?
Dan yang lebih parah lagi, kenapa aku harus tersilaukan olehnya..?
Apa yang kucari..?
Apa yang kuingini..?
Apakah semua keindahan yang berjalan pada jalan yang semestinya harus berakhir..?
Apakah aku bisa menggantinya dengan yang lain..
Lalu, untuk apa pengorbanan kami selama ini..?
Apakah akan sia-sia..?
Apakah akan terganti oleh kebahagiaan semu..?
Cermin..
Aku tersadar betapa semakin umurku bertambah..
Seharusnya aku semakin kuat menghadapi tantangan hidup..
Puluhan tahun aku berjuang..
Beribu hambatan telah aku lalui dengan ditemani keringat darah dan juga air mata..
Dan sekarang, seharusnya aku bersyukur karena kami semua masih bersama..
Jadi, apa yang kucari..?
Jadi, apa yang kuingini..?
Cermin..
Satu yang aku sadari..
Menghadapi tantangan ekonomi, seberapapun beratnya..
Aku masih bisa menghadapinya..
Tantangan hati..?
Mungkin butuh kemampuan lebih..
Tapi cermin..
Setidaknya saat aku hampir salah dalam berjalan..
Dengan melihatmu, aku bisa melihat istriku, anak-anakku, hidup dan harapan mereka, dan juga perjalanan kami..
Dalam diam kau mengingatkanku..
Aku memang semakin tua..
Aku mungkin semakin letih..
Senyum mereka..
Tangis mereka..
Menyadarkanku bahwa, dengan bersama mereka..
Menjaga mereka..
Itulah yang seharusnya kupertahankan..
Itulah yang seharusnya kuinginkan..
Dan penantianpun berakhir..
*teruntuk "mu"*
Semoga selalu tegar dalam menghadapi setiap cobaan hati..
Masih terlihat jelas gurat-gurat kepenatan yang setia menghiasi wajahku sejak beberapa hari kemarin..
Guratan kulit yang dikalahkan oleh waktu..
Semakin tuakah aku..?
Senyum yang terlihat agak tidak teratur..
Rambut yang semakin memutih satu demi satu..
Letih dalam melangkah..
Semakin tuakah aku..?
Cermin..
Tunjukkan aku kehidupanku selama ini..
Tunjukkan aku apa yang telah kulakukan selama ini..
Istriku yang cantik yang selalu menemani..
Anak-anakku yang telah berhasil mencapai tujuan mereka..
Teringat saat susah kita merangkak bersama..
Sudah seharusnya bahagia kita rasakan bersama..
Apa lagi yang kucari..?
Apa lagi yang kuingini..?
Cermin..
Kenapa harus ada bayangan indah lain yang kau pantulkan ke hadapanku..?
Dan yang lebih parah lagi, kenapa aku harus tersilaukan olehnya..?
Apa yang kucari..?
Apa yang kuingini..?
Apakah semua keindahan yang berjalan pada jalan yang semestinya harus berakhir..?
Apakah aku bisa menggantinya dengan yang lain..
Lalu, untuk apa pengorbanan kami selama ini..?
Apakah akan sia-sia..?
Apakah akan terganti oleh kebahagiaan semu..?
Cermin..
Aku tersadar betapa semakin umurku bertambah..
Seharusnya aku semakin kuat menghadapi tantangan hidup..
Puluhan tahun aku berjuang..
Beribu hambatan telah aku lalui dengan ditemani keringat darah dan juga air mata..
Dan sekarang, seharusnya aku bersyukur karena kami semua masih bersama..
Jadi, apa yang kucari..?
Jadi, apa yang kuingini..?
Cermin..
Satu yang aku sadari..
Menghadapi tantangan ekonomi, seberapapun beratnya..
Aku masih bisa menghadapinya..
Tantangan hati..?
Mungkin butuh kemampuan lebih..
Tapi cermin..
Setidaknya saat aku hampir salah dalam berjalan..
Dengan melihatmu, aku bisa melihat istriku, anak-anakku, hidup dan harapan mereka, dan juga perjalanan kami..
Dalam diam kau mengingatkanku..
Aku memang semakin tua..
Aku mungkin semakin letih..
Senyum mereka..
Tangis mereka..
Menyadarkanku bahwa, dengan bersama mereka..
Menjaga mereka..
Itulah yang seharusnya kupertahankan..
Itulah yang seharusnya kuinginkan..
Dan penantianpun berakhir..
*teruntuk "mu"*
Semoga selalu tegar dalam menghadapi setiap cobaan hati..
Rabu, 20 Agustus 2008
Dear sista..
Hari ini...
21 agustus 2008...
Adikku yang cewek milad dengan kesederhanaan...
Tak disangka kita dah sama-sama gede ya dek...
Semoga Allah selalu melindungi dan melapangkan jalanmu..
Mencapai cita-cinta...
Dan cinta... *alias nikah*
Dunia Akhirat...
As ur big brother, i always support u from behind...
All the time...
Amin...
21 agustus 2008...
Adikku yang cewek milad dengan kesederhanaan...
Tak disangka kita dah sama-sama gede ya dek...
Semoga Allah selalu melindungi dan melapangkan jalanmu..
Mencapai cita-cinta...
Dan cinta... *alias nikah*
Dunia Akhirat...
As ur big brother, i always support u from behind...
All the time...
Amin...
Selasa, 27 Mei 2008
sedih...
Dari semalam ampe pagi aku gak bisa tidur. Susah banget. Entah gelisah mulu dari tadi. Semua bermula dari tadi malam saat aku jalan-jalan pake motor sekedar refreshing. Jalanan tadi malam rame banget ma kendaraan. Banyak yang kebut-kebutan. Maklum, lalu lintasnya satu arah. Aku sendiri jalannya ya biasa aja, gak cepet amat tapi juga gak kayak siput deh. Nah, pas depan swalayan yang lumayan rame, sekilas aku denger suara seseorang yang seakan mengusir sesuatu dari jualannya di tepi jalan. Hush! Hush! Refleks sekilas aku melihat kelebatan bayangan sosok yang berlari melangkahi antara dua roda motorku. Deg! Aku ngerasa ada sesuatu yang terjadi seiring perasaanku yg gak enak. Begitu cepat. Gak bisa kukendalikan. Sempat kutoleh ke belakang, masya Allah dari kejauhan terlihat sesuatu yang tergeletak di tengah jalan. Kucing! Batinku. Pasti! Mendadak pikiranku kosong. Tapi jalanan yang ada tak memungkinkanku untuk berhenti. Aku harus memutar. Pikiranku agak kalut dan sedih. Akhirnya aku berhenti sebentar buat beli tas kresek. Kebetulan aku punya kain putih di jok motorku. Trus setelah aku memutar diantara keramaian, gak ada apapun. Kutanya orang sekitar, katanya udah dibawa. Tapi mereka gak tau kemana. Akhirnya aku pergi dengan tangan hampa. Teringat baru pertama kalinya aku menabrak seekor kucing, aku jadi sedih banget. Padahal kucing adalah hewan favoritku sejak kecil. Sampe rumah aku terus gelisah dan hanya bisa terus berdoa memohon ampunan Allah akan khilafku. Bahkan ampe mimpi yang nggak-nggak. :((
Ya Allah, ampunilah khilafku. Sesungguhnya hanya Engkaulah yang maha adil lagi maha bijaksana. Maafkan aku kucing, semoga arwahmu tenang di alam sana. Amin.
*dedicated to unknown cat wherever u are*
Ya Allah, ampunilah khilafku. Sesungguhnya hanya Engkaulah yang maha adil lagi maha bijaksana. Maafkan aku kucing, semoga arwahmu tenang di alam sana. Amin.
*dedicated to unknown cat wherever u are*
Senin, 19 Mei 2008
Kenapa harus Riya'...?!
Riya' adalah mencari kemegahan dan kedudukan dengan berselubungkan ibadah. Riya' adalah haram hukumnya, dan pelakunya berhak memperoleh murka di sisi Allah SWT.
Tidak akan menyombongkan diri melainkan orang yang mengagungkan dirinya disebabkan keyakinan adanya sifat-sifat kesempurnaan keagamaan dan kesempurnaan duniawi. Ada tujuh perkara yang merupakan sebab-sebab timbulnya kesombongan.
1. Ilmu.
Kesombongan itu mudah sekali menghinggapi sebagian orang alim. Baru saja merasakan di dalam hatinya ada kesempurnaan ilmu, ia sudah mengagungkan dirinya dan menganggap dirinya lebih utama di sisi Allah SWT.
2. Amal dan Ibadah.
Amal dan ibadah tidak akan bebas dari hinanya kesombongan dan kecenderungan hati manusia dalam urusan agama dan dunianya.
Yang menyangkut urusan dunia adalah bahwa mereka sangat mengharap disebutnya mereka sebagai orang yang wara' dan bertakwa dibanding orang lain.
Yang menyangkut urusan agama adalah, menganggap sekalian manusia termasuk orang-orang yang celaka, dan sebaliknya menganggap diri sendiri sebagai orang yang selamat.
3. Nasab (Keturunan)
Seseorang yang memiliki nasab mulia ada kalanya menganggap rendah orang yang tidak bernasab demikian, sekalipun orang yang direndahkan ini sebenarnya lebih tinggi amal dan ilmunya.
4. Membanggakan keindahan fisik.
Ini kebanyakan dilakukan oleh perempuan dan laki-laki yang merasa memiliki kelebihan fisik dalam hal kecantikan maupun ketampanan. Dan ini akan mendorong mereka suka mengghibah dan menyebut-nyebut kekurangan, cela dan cacat orang lain.
5. Membanggakan harta.
Ini banyak terjadi di kalangan penguasa dan pedagang. Seperti yang tampak pada pakaian, perhiasan dan kendaraan yang mereka gunakan.
6. Kekuatan dan keperkasaan.
Kebanggaan memiliki kekuatan dan keperkasaan ini menyebabkan seseorang suka menyombongkan diri terhadap orang-orang yang lemah dan tak berdaya.
7. Banyak pengikut.
Kebanggaan memiliki banyak pengikut, penolong, keluarga dan karib kerabat juga merupakan penyebab timbulnya kesombongan.
Demikian perkara-perkara yang dengannya manusia menyombongkan diri satu dengan lainnya. Padalah siapalah kita manusia dibandingkan Allah?
"Binasalah manusia; alangkah amat sangat kefakirannya. Dari apakah Allah menciptakannya? Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentukannya. Kemudian Dia memudahkan jalannya. Kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur, kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali." (QS. 'Abasa : 17-22).
Jadi, kenapa harus Riya'...?!
Kamis, 15 Mei 2008
Dimana perbedaan hidup dan mati hanyalah setipis kertas..
Hikmah ini selain tugas dari rhie, kushare aja sebagai pengalaman hidup tanpa ada niatan tertentu.
"25 juli 1999"
Saat itu kuputuskan kembali ke ambon dan tidak jadi melanjutkan studi ku di makassar. Padahal aku sempat dipindahkan sejak peristiwa setengah tahun yang lalu. Walau apapun yang terjadi, bagiku kota ini adalah rahmat dan tempat aku dilahirkan. Singkat cerita, kami sekeluarga kembali ke rumah lama kami yang sebelumnya sempat terkena imbas kekacauan.
Saat itu begitu banyak berita atau kabar yang simpang siur beredar di telinga kami. Akhirnya pagi itu kami putuskan mengirim kembali keluarga kami yang wanita ke rumah famili kami yang lebih aman. Ayah udah pergi kerja sejak tadi dan berpesan lewat telp untuk aku dan pamanku, lelaki yang tersisa agar tetap waspada. Hari menjelang siang, tanpa kami berdua sadari suasana sudah agak memanas. Dari jauh sayup-sayup kudengar suara yang akrab kudengar setiap malam lebaran. Dengan agak panik, pamanku memutuskan untuk keluar dan kita berdua menyiapkan apa yang bisa dibawa. Saat kami mengintip di pintu depan, lemaslah kami melihat kenyataan bahwa keadaan di luar sungguh kacau dan kami benar2 tak bisa keluar. Kepanikan melanda pamanku hingga kami kembali mundur setelah mengunci pintu depan. Pamanku terus menerus menelpon keluarga kami untuk meminta pertolongan. Aku? Entahlah. Apa yang kurasakan saat itu seperti sesuatu yang kosong tak berisi. Aku merasa ajal kami sudah dekat. Dan aku tidak ingin sia-sia menghadapinya. Ayahku telp, katax beliau mencoba menerobos tetapi terhadang puluhan meter mendekati rumah kami. Ibu menelpon sambil menangis. Kata beliau jangan mati. Jangan mati. Hatiku luruh ingin menangis tapi tubuhku berkata jangan. Aku merasa aku mungkin akan mati. Tapi aku tak ingin sia-sia. Sesaat hening terjadi bercampur suara pamanku yang terus menerus menelpon tanpa henti dan diselingi dengusan gusarnya saat jawaban di telepon tidak memuaskan hatinya.
Menjelang siang..
Saat kami sedang duduk dalam kegelisahan. Tiba-tiba terdengar pagar rumah kami seperti terhantam benda keras. Dan muncullah suara-suara yang bersahutan di depan yang seakan-akan menggetarkan sudut rumah kami. Aku dan pamanku pun berdiri. Masing-masing kami berdiri seakan kami telah siap menghadapi apa yang akan terjadi. Sesaat tubuhku mati rasa. Bisa kurasakan satu demi satu pintu terhentak kasar di depan kami. Aku dan pamanku pun berzikir memohon ridha Allah untuk kami.
Tiba-tiba ada suara memanggil dari arah dapur. Ternyata tetanggaku memanggil dari jendela dapur rumah kami yang memang tepat berada di belakang rumah mereka. Dia menyuruh kami melompat ke rumahnya. Pamanku kemudian menarikku dan kita melompati jendela itu, tepat saat aku mendengar pintu ruang tengah kami terhentak juga. Walhasil kami berlindung di rumah tetanggaku. Awalnya kami berteduh di kamar kost cewek yang ada di rumah tetanggaku itu. Ampun deh, saat kami diajak cerita, pakaian dua orang cewek itu seksi amat. Ahahah. Jadi gelisah. :D
Sementara kudengar suara rumah kami yang sedang diobrak-abrik. Hiks.
Tak berselang lama, kerumunan massa juga mulai merambah rumah sekitarnya termasuk rumah tetanggaku. Mereka kemudian mengajak kami ke lantai atas di kamar tetanggaku yang cowok ini, dan kemudian naik ke plafon kamarnya. Jadi mirip tikus. :(
tak lama mereka memeriksa rumah tetanggaku hingga memasuki kamar tempat kami berlindung di plafonnya, tapi alhamdulillah kami masih dilindungi oleh Allah hingga mereka pergi. Kami pun sempat turun dan nonton tv serta disuguhi mie instan. Bayangkan! :D
karena situasinya masih rawan, kami dianjurkan untuk menunggu malam tiba untuk keluar. Kebetulan saat itu hujan. Pas setelah maghrib saat kami sedang nonton telenovela, ;))
kami putuskan untuk keluar saat hujan rintik. Kami siapkan jaket yang tebal untuk menyelubungi tubuh dan topi untuk wajah. Bismillah, kami berjalan keluar diiringi doa dan tangisan tetangga kami yang melepas kepergian kami. Jarak antara rumah tetangga kami dan tempat yang kami tuju hanya berkisar 3 km. Tapi terasa jauh sekali. Mungkin karena yang melangkahkan kaki saat itu adalah hati. Jadi mungkin terselingi beban. Halah. :D
Sepanjang kami berjalan di tengah jalan, maklum lalu lintas kagak ade. Maka di kiri kanan kami terlihat banyak orang yang berkerumun dan nyala api dari kendaraan-kendaraan yang terbakar. Kami hanya bisa berjalan sambil berzikir apa saja yang bisa kami ingat. Entahlah, mungkin pandangan mata mereka tertutupi, tapi alhamdulillah akhirnya kami sampai ke batas tujuan kami diiringi sesal mereka yang terlambat menyadari. Udah gitu aku sempat ditodong syahadat dibawah ancaman senjata. Ampun deh. :s
alhamdulillah lancar. Jalan lagi tak lama akhirnya ketemu ayahku yang menunggu dari tadi. Beliau memelukku dan terharu. Aku sih agak canggung dipeluk laki-laki. :D
aku disuruh ke rumah familiku ditunggu ibu, sedang pamanku menemani ayah. Sampai di rumah, aku disambut tangisan adik-adik dan keluargaku yang lain. Hatiku sedikit tersentuh. Kucari ibuku. Ternyata beliau terbaring lemah di tempat tidur dan menangis melihatku. Saat itu baru meledaklah bendungan tangisku dan memeluk beliau erat-erat. Saat itu baru aku sadari betapa besar rasa sayang keluargaku terhadapku. Dan sejak itu aku ingin menjaga mereka hingga nanti. Alhamdulillah peristiwa ini menjadi hikmah yang tak terhingga dan jadi pegangan untuk hidupku ke depannya.
"Maka maha suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu... (QS. Ya Sin : 83)
"25 juli 1999"
Saat itu kuputuskan kembali ke ambon dan tidak jadi melanjutkan studi ku di makassar. Padahal aku sempat dipindahkan sejak peristiwa setengah tahun yang lalu. Walau apapun yang terjadi, bagiku kota ini adalah rahmat dan tempat aku dilahirkan. Singkat cerita, kami sekeluarga kembali ke rumah lama kami yang sebelumnya sempat terkena imbas kekacauan.
Saat itu begitu banyak berita atau kabar yang simpang siur beredar di telinga kami. Akhirnya pagi itu kami putuskan mengirim kembali keluarga kami yang wanita ke rumah famili kami yang lebih aman. Ayah udah pergi kerja sejak tadi dan berpesan lewat telp untuk aku dan pamanku, lelaki yang tersisa agar tetap waspada. Hari menjelang siang, tanpa kami berdua sadari suasana sudah agak memanas. Dari jauh sayup-sayup kudengar suara yang akrab kudengar setiap malam lebaran. Dengan agak panik, pamanku memutuskan untuk keluar dan kita berdua menyiapkan apa yang bisa dibawa. Saat kami mengintip di pintu depan, lemaslah kami melihat kenyataan bahwa keadaan di luar sungguh kacau dan kami benar2 tak bisa keluar. Kepanikan melanda pamanku hingga kami kembali mundur setelah mengunci pintu depan. Pamanku terus menerus menelpon keluarga kami untuk meminta pertolongan. Aku? Entahlah. Apa yang kurasakan saat itu seperti sesuatu yang kosong tak berisi. Aku merasa ajal kami sudah dekat. Dan aku tidak ingin sia-sia menghadapinya. Ayahku telp, katax beliau mencoba menerobos tetapi terhadang puluhan meter mendekati rumah kami. Ibu menelpon sambil menangis. Kata beliau jangan mati. Jangan mati. Hatiku luruh ingin menangis tapi tubuhku berkata jangan. Aku merasa aku mungkin akan mati. Tapi aku tak ingin sia-sia. Sesaat hening terjadi bercampur suara pamanku yang terus menerus menelpon tanpa henti dan diselingi dengusan gusarnya saat jawaban di telepon tidak memuaskan hatinya.
Menjelang siang..
Saat kami sedang duduk dalam kegelisahan. Tiba-tiba terdengar pagar rumah kami seperti terhantam benda keras. Dan muncullah suara-suara yang bersahutan di depan yang seakan-akan menggetarkan sudut rumah kami. Aku dan pamanku pun berdiri. Masing-masing kami berdiri seakan kami telah siap menghadapi apa yang akan terjadi. Sesaat tubuhku mati rasa. Bisa kurasakan satu demi satu pintu terhentak kasar di depan kami. Aku dan pamanku pun berzikir memohon ridha Allah untuk kami.
Tiba-tiba ada suara memanggil dari arah dapur. Ternyata tetanggaku memanggil dari jendela dapur rumah kami yang memang tepat berada di belakang rumah mereka. Dia menyuruh kami melompat ke rumahnya. Pamanku kemudian menarikku dan kita melompati jendela itu, tepat saat aku mendengar pintu ruang tengah kami terhentak juga. Walhasil kami berlindung di rumah tetanggaku. Awalnya kami berteduh di kamar kost cewek yang ada di rumah tetanggaku itu. Ampun deh, saat kami diajak cerita, pakaian dua orang cewek itu seksi amat. Ahahah. Jadi gelisah. :D
Sementara kudengar suara rumah kami yang sedang diobrak-abrik. Hiks.
Tak berselang lama, kerumunan massa juga mulai merambah rumah sekitarnya termasuk rumah tetanggaku. Mereka kemudian mengajak kami ke lantai atas di kamar tetanggaku yang cowok ini, dan kemudian naik ke plafon kamarnya. Jadi mirip tikus. :(
tak lama mereka memeriksa rumah tetanggaku hingga memasuki kamar tempat kami berlindung di plafonnya, tapi alhamdulillah kami masih dilindungi oleh Allah hingga mereka pergi. Kami pun sempat turun dan nonton tv serta disuguhi mie instan. Bayangkan! :D
karena situasinya masih rawan, kami dianjurkan untuk menunggu malam tiba untuk keluar. Kebetulan saat itu hujan. Pas setelah maghrib saat kami sedang nonton telenovela, ;))
kami putuskan untuk keluar saat hujan rintik. Kami siapkan jaket yang tebal untuk menyelubungi tubuh dan topi untuk wajah. Bismillah, kami berjalan keluar diiringi doa dan tangisan tetangga kami yang melepas kepergian kami. Jarak antara rumah tetangga kami dan tempat yang kami tuju hanya berkisar 3 km. Tapi terasa jauh sekali. Mungkin karena yang melangkahkan kaki saat itu adalah hati. Jadi mungkin terselingi beban. Halah. :D
Sepanjang kami berjalan di tengah jalan, maklum lalu lintas kagak ade. Maka di kiri kanan kami terlihat banyak orang yang berkerumun dan nyala api dari kendaraan-kendaraan yang terbakar. Kami hanya bisa berjalan sambil berzikir apa saja yang bisa kami ingat. Entahlah, mungkin pandangan mata mereka tertutupi, tapi alhamdulillah akhirnya kami sampai ke batas tujuan kami diiringi sesal mereka yang terlambat menyadari. Udah gitu aku sempat ditodong syahadat dibawah ancaman senjata. Ampun deh. :s
alhamdulillah lancar. Jalan lagi tak lama akhirnya ketemu ayahku yang menunggu dari tadi. Beliau memelukku dan terharu. Aku sih agak canggung dipeluk laki-laki. :D
aku disuruh ke rumah familiku ditunggu ibu, sedang pamanku menemani ayah. Sampai di rumah, aku disambut tangisan adik-adik dan keluargaku yang lain. Hatiku sedikit tersentuh. Kucari ibuku. Ternyata beliau terbaring lemah di tempat tidur dan menangis melihatku. Saat itu baru meledaklah bendungan tangisku dan memeluk beliau erat-erat. Saat itu baru aku sadari betapa besar rasa sayang keluargaku terhadapku. Dan sejak itu aku ingin menjaga mereka hingga nanti. Alhamdulillah peristiwa ini menjadi hikmah yang tak terhingga dan jadi pegangan untuk hidupku ke depannya.
"Maka maha suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu... (QS. Ya Sin : 83)
Kamis, 24 April 2008
Saat persimpangan itu semakin jelas..
Senyum yang telah lama terpatri..
Tawa dan canda yang semakin lama semakin terasa hambar..
Seperti penggalan awan hitam yang terperangkap diantara sekian banyak awan putih yang berarakan..
Terasa silau..
Terasa cerah..
Sehingga awan hitam itu tak mampu meluruhkan air yang tersimpan dan yang selalu dia simpan..
Tidak setetespun..
Mungkin memang lebih baik begini..
Apakah lebih baik menjadi bunga yang indah tapi tak harum baunya..?
Ataukah menjadi bunga yang harum tapi keberadaannya tak terlihat sedikitpun..
Mungkin memang lebih baik begini..
Mendaki seberapa tinggi gunung hanya demi setangkai edelweiss..
Tapi alih2 memetiknya, dia hanya memandang dan menikmati keberadaannya..
Mungkin memang lebih baik begini..
Menjadi seseorang yang berguna untuk menyenangx hati orang lain yang bersedih..
Daripada menemaninya larut didalam kesedihan..
Memiliki adalah anugerah..
Tidak pun bukan berarti kegagalan..
Karena keindahan tidak selamax harus dimiliki..
Indah itu ada disini..
Di hati ini..
Hanya saja apa yang kita lihat, lebih indah dari apa yang kita rasakan..
Mungkin memang lebih baik begini..
Menjadi yang berguna..
Menjadi yang mengerti..
Menjadi yang menasehati..
Persimpangan jalan ini semakin terlihat jelas..
Tak perlu kehadiranku untuk menyadarinya..
Tak perlu memilih,karena kita tak harus memilih..
Just be the way u are..
Just be the way we always used together..
*didedikasikan untuk orang2 yang tak pernah aku lupakan*
Semoga Allah selalu melindungi..
Tawa dan canda yang semakin lama semakin terasa hambar..
Seperti penggalan awan hitam yang terperangkap diantara sekian banyak awan putih yang berarakan..
Terasa silau..
Terasa cerah..
Sehingga awan hitam itu tak mampu meluruhkan air yang tersimpan dan yang selalu dia simpan..
Tidak setetespun..
Mungkin memang lebih baik begini..
Apakah lebih baik menjadi bunga yang indah tapi tak harum baunya..?
Ataukah menjadi bunga yang harum tapi keberadaannya tak terlihat sedikitpun..
Mungkin memang lebih baik begini..
Mendaki seberapa tinggi gunung hanya demi setangkai edelweiss..
Tapi alih2 memetiknya, dia hanya memandang dan menikmati keberadaannya..
Mungkin memang lebih baik begini..
Menjadi seseorang yang berguna untuk menyenangx hati orang lain yang bersedih..
Daripada menemaninya larut didalam kesedihan..
Memiliki adalah anugerah..
Tidak pun bukan berarti kegagalan..
Karena keindahan tidak selamax harus dimiliki..
Indah itu ada disini..
Di hati ini..
Hanya saja apa yang kita lihat, lebih indah dari apa yang kita rasakan..
Mungkin memang lebih baik begini..
Menjadi yang berguna..
Menjadi yang mengerti..
Menjadi yang menasehati..
Persimpangan jalan ini semakin terlihat jelas..
Tak perlu kehadiranku untuk menyadarinya..
Tak perlu memilih,karena kita tak harus memilih..
Just be the way u are..
Just be the way we always used together..
*didedikasikan untuk orang2 yang tak pernah aku lupakan*
Semoga Allah selalu melindungi..
Kamis, 17 April 2008
Rabu, 09 April 2008
Jumat, 28 Maret 2008
3 dalam 1 keyakinan
Setelah sekian lama berjalan, dengan terpaksa kuhempaskan tubuhku ke hamparan pasir tepat di depan gulungan ombak pantai yang berkejaran tanpa henti..
Letih..
Kupalingkan wajahku karena tiupan angin yang terasa agak mengganggu pandanganku hingga tanpa sengaja mataku tertumbuk pada satu sosok yang sedang duduk tertegun sambil memandang ke kejauhan..
Entahlah, mungkin dia sedang memikirkan sesuatu..
Atau sedang menunggu seseorang kah..?
Senyum kecutku menyadarkanku bahwa tidak semestinya aku terlalu mencari tahu tentang masalah orang lain..
Hmm..
Tapi untuk mengenalinya secara umum bolehlah..
Batinku berkata sambil ngeles.. Hehe..
"sedang menunggu seseorang..?"
sejenak dia menoleh saat terasa sapaanku yang terdengar jelas ditelinganya seiring langkahku mendekatinya.
"lagi asik liatin temen, kak." dia menjawab sambil memandangku sekilas.
"mana temenmu?" ujarku sambil menoleh ke arah pandangannya yang tak berubah banyak sejak tadi.
"tuh, kak."
kususuri arah tangannya yang menunjuk tepat ke arah pantai berhadapan dengan posisiku duduk.
"oh." ujarku sambil memandang tiga sosok yang sedang tertawa-tawa berlarian bercanda riang dengan semangat 45.
Hehe, begitu menikmati suasana ya. Tak terlihat adanya keterpaksaan di wajah-wajah mereka, gumamku.
"kamu gak bergabung ma mereka?" tanyaku.
"lagi pengen duduk aja kak. Dengan memandangi mereka sudah turut membuatku seneng." jelasnya.
Gile, ni anak filosofis juga. Gumamku.
"kita biasanya selalu bersama. Tapi akhir-akhir ini kita jarang berbagi waktu bersama. Kita memang tetap bersama. Tapi kadang hati kita gak bersama-sama." jelasnya lagi.
Kupandangi wajahnya. Agak terlihat jelas kegundahan di wajahnya seakan-akan sedang menyimpan sesuatu. Pandangan matanya pun menjadi sendu.
"kenapa begitu?" ujarku.
"kelihatannya temen-temenmu have fun aja. Dan kamu juga gitu kan?"
Senyum tipis sekilas menghiasi wajahnya.
"kak, dalam hidup ini kadang kita bahagia. Kadang kita sedih. Siapa yang slalu ada untuk kita?"
"keluarga?"
"sahabat?"
"lalu, untuk apa kebahagiaan itu?"
"untuk siapa sedih itu?"
Kupandangi kembali ketiga temannya yang sedang asyik bermain sambil menunggu kelanjutan omongannya.
"kita semua pasti ingin tetap bahagia. Katakanlah untuk merasakan bahagia, kita punya tiga sel rasa untuk membentuk organ kebahagiaan itu. Yaitu cinta, kasih dan sayang."
kutoleh sebentar pandanganku kearahnya. Kuhela napasku sesaat.
"kak, jika tidak ada cinta di hati kita, apa artinya suatu persahabatan? Kasih dan sayang akan merasa kehilangannya.
Dan jika kita hanya merasakan kasih, untuk apa rasa kasih itu jika tidak membentuk rasa cinta kepada orang lain dan menyayangi mereka?
Begitu juga jika hanya sayang yang memenuhi hati. Sayang untuk apakah jika rasa cinta dan kasih juga telah lenyap."
kasian juga, gumamku. Mungkin tidak akan ada keinginan yang akan terwujud jika salah satu dari mereka hilang.
"tapi jika hanya ada cinta, bukankah itu bisa merupakan nafsu belaka?
Atau jika hanya ada kasih di hati, ikhlaskah rasa itu.
Dan begitupun juga jika hanya ada sayang, tak terasa ada sedikitpun yang akan membekas dalam jiwa." perlahan dia berdiri sambil tersenyum sejenak.
"itulah uniknya sahabat sejati. Bagaikan rantai yang tak terpisahkan oleh ego atau emosi jiwa. Rantai akan terasa sesak jika dipasang pada sesuatu yang besar. Dan ia akan terlihat longgar jika terpasang pada sesuatu yang kecil. Tergantung dimana kita berada. Tergantung seberapa kuat dan lemah nilai persahabatan, tapi rantai adalah rantai. Jika tiga sel tadi tetap bersama, niscaya dia tidak akan pernah putus." jelasnya.
"sahabat selalu ada saat dibutuhkan. Dan dia juga ada saat membutuhkan. Sahabat tidak pernah memaksa. Sahabat selalu menemani dalam kesedihan. Tertawa dalam kebahagiaan. Sahabat bisa meletakkan dirinya di depan orang yang disayanginya. Membiarkan tubuhnya sebagai tameng yang melindungi dari hujan maupun angin. Dan jika dia marah, niscaya marahnya hanyalah untuk perbaikan diri. Dan setelah kemarahannya usai, dia akan menyesalinya."
Aku tersenyum sejenak menyimaknya.
Ah, alangkah bijaknya dia. Aku jadi teringat sendiri akan nasib persahabatanku yang terancam hancur berantakan.
"jika tidak ada cinta, persahabatan akan terasa hambar."
"Jika tidak ada kasih, persahabatan tidak akan bermakna."
"Jika tidak ada sayang, maka hilanglah makna persahabatan itu sendiri."
"Tapi jika ketiganya selalu ada mengiringi langkah persahabatan ini, maka akulah yang akan muncul terakhir kali untuk melengkapi semuanya."
Sejenak dia tertawa renyah saat pandanganku terlihat agak heran mendengar kata-katanya barusan."
"hehe, karena itu kak. Kadang dengan melihat mereka bersama, kesenangan itu sudah cukup bagiku. Karena bagiku, mereka bertiga itulah cinta, kasih dan sayang yang selalu mengiringi perjalanan hidupku. Senang maupun sedih."
Aku menjadi agak tersadar oleh kata-katanya. Betapa belum berartinya aku untuk memperjuangkan persahabatan yang kujalani selama ini. Terlalu banyak putus asa.
Kupandangi dia terakhir kali saat dia mulai beranjak menyusul teman-temannya yang mulai memanggilnya untuk datang.
"Jika mereka adalah sahabat-sahabat yang kamu kasihi, jika mereka adalah cinta, kasih dan sayang bagimu. Lalu siapakah kamu?"
Dia berbalik dan berkata sambil tersenyum manis.
"Kebahagiaan."
Kupandangi sosoknya yang mulai menjauh dan menjauh. Hm, tularkan kebahagiaanmu itu dik. Karena aku sungguh-sungguh belajar ketulusan itu dari hatimu. Semoga persahabatan kalian abadi, gumamku sambil berdiri.
Sore itu terasa agak dingin. Kuputuskan untuk berlalu pergi.
Letih..
Kupalingkan wajahku karena tiupan angin yang terasa agak mengganggu pandanganku hingga tanpa sengaja mataku tertumbuk pada satu sosok yang sedang duduk tertegun sambil memandang ke kejauhan..
Entahlah, mungkin dia sedang memikirkan sesuatu..
Atau sedang menunggu seseorang kah..?
Senyum kecutku menyadarkanku bahwa tidak semestinya aku terlalu mencari tahu tentang masalah orang lain..
Hmm..
Tapi untuk mengenalinya secara umum bolehlah..
Batinku berkata sambil ngeles.. Hehe..
"sedang menunggu seseorang..?"
sejenak dia menoleh saat terasa sapaanku yang terdengar jelas ditelinganya seiring langkahku mendekatinya.
"lagi asik liatin temen, kak." dia menjawab sambil memandangku sekilas.
"mana temenmu?" ujarku sambil menoleh ke arah pandangannya yang tak berubah banyak sejak tadi.
"tuh, kak."
kususuri arah tangannya yang menunjuk tepat ke arah pantai berhadapan dengan posisiku duduk.
"oh." ujarku sambil memandang tiga sosok yang sedang tertawa-tawa berlarian bercanda riang dengan semangat 45.
Hehe, begitu menikmati suasana ya. Tak terlihat adanya keterpaksaan di wajah-wajah mereka, gumamku.
"kamu gak bergabung ma mereka?" tanyaku.
"lagi pengen duduk aja kak. Dengan memandangi mereka sudah turut membuatku seneng." jelasnya.
Gile, ni anak filosofis juga. Gumamku.
"kita biasanya selalu bersama. Tapi akhir-akhir ini kita jarang berbagi waktu bersama. Kita memang tetap bersama. Tapi kadang hati kita gak bersama-sama." jelasnya lagi.
Kupandangi wajahnya. Agak terlihat jelas kegundahan di wajahnya seakan-akan sedang menyimpan sesuatu. Pandangan matanya pun menjadi sendu.
"kenapa begitu?" ujarku.
"kelihatannya temen-temenmu have fun aja. Dan kamu juga gitu kan?"
Senyum tipis sekilas menghiasi wajahnya.
"kak, dalam hidup ini kadang kita bahagia. Kadang kita sedih. Siapa yang slalu ada untuk kita?"
"keluarga?"
"sahabat?"
"lalu, untuk apa kebahagiaan itu?"
"untuk siapa sedih itu?"
Kupandangi kembali ketiga temannya yang sedang asyik bermain sambil menunggu kelanjutan omongannya.
"kita semua pasti ingin tetap bahagia. Katakanlah untuk merasakan bahagia, kita punya tiga sel rasa untuk membentuk organ kebahagiaan itu. Yaitu cinta, kasih dan sayang."
kutoleh sebentar pandanganku kearahnya. Kuhela napasku sesaat.
"kak, jika tidak ada cinta di hati kita, apa artinya suatu persahabatan? Kasih dan sayang akan merasa kehilangannya.
Dan jika kita hanya merasakan kasih, untuk apa rasa kasih itu jika tidak membentuk rasa cinta kepada orang lain dan menyayangi mereka?
Begitu juga jika hanya sayang yang memenuhi hati. Sayang untuk apakah jika rasa cinta dan kasih juga telah lenyap."
kasian juga, gumamku. Mungkin tidak akan ada keinginan yang akan terwujud jika salah satu dari mereka hilang.
"tapi jika hanya ada cinta, bukankah itu bisa merupakan nafsu belaka?
Atau jika hanya ada kasih di hati, ikhlaskah rasa itu.
Dan begitupun juga jika hanya ada sayang, tak terasa ada sedikitpun yang akan membekas dalam jiwa." perlahan dia berdiri sambil tersenyum sejenak.
"itulah uniknya sahabat sejati. Bagaikan rantai yang tak terpisahkan oleh ego atau emosi jiwa. Rantai akan terasa sesak jika dipasang pada sesuatu yang besar. Dan ia akan terlihat longgar jika terpasang pada sesuatu yang kecil. Tergantung dimana kita berada. Tergantung seberapa kuat dan lemah nilai persahabatan, tapi rantai adalah rantai. Jika tiga sel tadi tetap bersama, niscaya dia tidak akan pernah putus." jelasnya.
"sahabat selalu ada saat dibutuhkan. Dan dia juga ada saat membutuhkan. Sahabat tidak pernah memaksa. Sahabat selalu menemani dalam kesedihan. Tertawa dalam kebahagiaan. Sahabat bisa meletakkan dirinya di depan orang yang disayanginya. Membiarkan tubuhnya sebagai tameng yang melindungi dari hujan maupun angin. Dan jika dia marah, niscaya marahnya hanyalah untuk perbaikan diri. Dan setelah kemarahannya usai, dia akan menyesalinya."
Aku tersenyum sejenak menyimaknya.
Ah, alangkah bijaknya dia. Aku jadi teringat sendiri akan nasib persahabatanku yang terancam hancur berantakan.
"jika tidak ada cinta, persahabatan akan terasa hambar."
"Jika tidak ada kasih, persahabatan tidak akan bermakna."
"Jika tidak ada sayang, maka hilanglah makna persahabatan itu sendiri."
"Tapi jika ketiganya selalu ada mengiringi langkah persahabatan ini, maka akulah yang akan muncul terakhir kali untuk melengkapi semuanya."
Sejenak dia tertawa renyah saat pandanganku terlihat agak heran mendengar kata-katanya barusan."
"hehe, karena itu kak. Kadang dengan melihat mereka bersama, kesenangan itu sudah cukup bagiku. Karena bagiku, mereka bertiga itulah cinta, kasih dan sayang yang selalu mengiringi perjalanan hidupku. Senang maupun sedih."
Aku menjadi agak tersadar oleh kata-katanya. Betapa belum berartinya aku untuk memperjuangkan persahabatan yang kujalani selama ini. Terlalu banyak putus asa.
Kupandangi dia terakhir kali saat dia mulai beranjak menyusul teman-temannya yang mulai memanggilnya untuk datang.
"Jika mereka adalah sahabat-sahabat yang kamu kasihi, jika mereka adalah cinta, kasih dan sayang bagimu. Lalu siapakah kamu?"
Dia berbalik dan berkata sambil tersenyum manis.
"Kebahagiaan."
Kupandangi sosoknya yang mulai menjauh dan menjauh. Hm, tularkan kebahagiaanmu itu dik. Karena aku sungguh-sungguh belajar ketulusan itu dari hatimu. Semoga persahabatan kalian abadi, gumamku sambil berdiri.
Sore itu terasa agak dingin. Kuputuskan untuk berlalu pergi.
Kamis, 20 Maret 2008
Orang bingung yang lagi nulis..
Heheh..
Begitu banyak ketidak konsistenan dalam hidup ini..
Di sekitarku..
Bahkan mungkin aku sendiri juga begitu..
Seperti pagi yang selalu berganti malam..
Ucapan bisa berubah..
Sikap juga begitu..
Sama..
Sebenarnya apa yang menyebabkan hal itu..?
Hati kah..
Sikap kah..
Ataukah ada pengetahuan baru..?
Hari ini mungkin kita ketemu..
Besok2 gak lagi..
Saat ini aku mengenalmu..
Apakah besok2 gak lagi..?
Jika memori otakku hanya 256 MB, mungkin memang ada separuh ingatan yang harus kudelete..
Tapi ini gak..
Seberapapun file yang masuk, selama masih bisa kusimpan..
Ijinkanlah..
Biarkan usia atau perjalanan hidup menghapus sendiri ingatan itu..
Kembali ke ketidak konsistenan..
Kenapa kita harus statis dalam memahami sesuatu..?
Dunia terus berubah..
Kita memang patut pake kaca spion untuk melihat ke belakang..
Tapi bukankah kita lebih banyak melihat ke depan..?
Semua tergantung kita..
Jangan berlindung di balik tameng yang tak tersentuh..
Itu mengajarkan hati kita untuk lemah..
Tak berdaya..
Tetaplah kuat..
Semakin tinggi pohon..
Semakin kencang angin yang menerpanya..
Begitu juga cobaan..
Jika kau mengerti bahwa jalan itu meski terjal namun lurus..
Niscaya kamu gak akan berbelok2..
Konsisten..
Meski mungkin hati nanti gak sejalan..
Meski mungkin tujuan mungkin gak sampai pada akhir..
Setidaknya kebaikan tetap ditebarkan..
Percayalah..
Kebenaran mungkin menyakitkan..
Tapi rasa sakit juga bisa membahagiakan..
Biasakan diri..
Biasakan hati..
Akhiri yang belum berawal..
Awali yang akan berakhir nanti..
Semoga baik..
Semoga baik..
Begitu banyak ketidak konsistenan dalam hidup ini..
Di sekitarku..
Bahkan mungkin aku sendiri juga begitu..
Seperti pagi yang selalu berganti malam..
Ucapan bisa berubah..
Sikap juga begitu..
Sama..
Sebenarnya apa yang menyebabkan hal itu..?
Hati kah..
Sikap kah..
Ataukah ada pengetahuan baru..?
Hari ini mungkin kita ketemu..
Besok2 gak lagi..
Saat ini aku mengenalmu..
Apakah besok2 gak lagi..?
Jika memori otakku hanya 256 MB, mungkin memang ada separuh ingatan yang harus kudelete..
Tapi ini gak..
Seberapapun file yang masuk, selama masih bisa kusimpan..
Ijinkanlah..
Biarkan usia atau perjalanan hidup menghapus sendiri ingatan itu..
Kembali ke ketidak konsistenan..
Kenapa kita harus statis dalam memahami sesuatu..?
Dunia terus berubah..
Kita memang patut pake kaca spion untuk melihat ke belakang..
Tapi bukankah kita lebih banyak melihat ke depan..?
Semua tergantung kita..
Jangan berlindung di balik tameng yang tak tersentuh..
Itu mengajarkan hati kita untuk lemah..
Tak berdaya..
Tetaplah kuat..
Semakin tinggi pohon..
Semakin kencang angin yang menerpanya..
Begitu juga cobaan..
Jika kau mengerti bahwa jalan itu meski terjal namun lurus..
Niscaya kamu gak akan berbelok2..
Konsisten..
Meski mungkin hati nanti gak sejalan..
Meski mungkin tujuan mungkin gak sampai pada akhir..
Setidaknya kebaikan tetap ditebarkan..
Percayalah..
Kebenaran mungkin menyakitkan..
Tapi rasa sakit juga bisa membahagiakan..
Biasakan diri..
Biasakan hati..
Akhiri yang belum berawal..
Awali yang akan berakhir nanti..
Semoga baik..
Semoga baik..
Kamis, 13 Maret 2008
Ironis..
Bismillahirrahmaanirrahiim..
"Dan berpeganglah kamu semua kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai." (QS Ali Imran : 103)
Hati mempunyai pintu..
Dan untuk mencapai pintu tersebut, kita harus mempunya sebuah kunci..
Ilmu mempunyai sebuah pintu..
Dan untuk memasukinya, kita juga membutuhkan sebuah kunci..
Agama juga memiliki sebuah pintu..
Dan untuk menyelami dalamnya, kita lagi-lagi membutuhkan sebuah kunci..
Jika kita kehilangan kunci itu, apakah kita akan binasa..?
Ataukah kita bahkan harus menjadi lebih kuat dalam memahami apa-apa yang bahkan untuk memasukinya saja kita belum mampu..?
Allah menciptakan kita berbangsa-bangsa agar kita dapat saling kenal mengenal di bumi ini..
Apakah Allah juga menciptakan manusia sebanyak ini untuk saling membenci..?
Jika karena Allah, kita semua bisa dipertemukan untuk saling berbagi kebaikan dan juga mengalami apa yang menjadi fitrah kita sebagai manusia..
Apakah karena Allah juga sehingga kita harus tidak saling mengenal..?
Mungkin ya..
Mungkin tidak..
Adapun hati, ilmu dan agama punya tempat tersendiri dalam diri manusia..
Ilmu dan agama seharusnya beriringan..
Akan tetapi hati selalu mengalami pasang surut..
Karena hati, kita bisa saling membenci..
Karena hati, kita bisa saling menyayangi..
Dan perubahannya bisa terjadi sekejap mata..
Allah adalah maha pembolak balik hati..
Tapi Allah tidaklah pemutus hubungan antara sesama manusia..
Jika kalian saling mencintai, katakanlah itu karena Allah..
Tapi jika kalian tidak ingin saling mengenal, jangan katakan karena Allah..
Karena kepada non muslim saja kita dianjurkan untuk mengenalnya dan mengambil apa-apa yang baik dari mereka..
Apalagi kepada kita yang sesama muslim..?
Mungkin alangkah indah seandainya kita tidak memiliki hati..
Apapun yang terjadi tidak akan mengubah apa yang telah terbangun selama ini..
Tapi alangkah indahnya kita memiliki hati..
Karena dengan itu kita bisa merasakan,
Sakit..
Bahagia..
Marah..
Kecewa..
Atau bahkan cinta..
Aku mencintaimu karena Allah..
Aku bersahabat denganmu karena Allah..
Aku berbagi ilmu dan agama denganmu karena Allah..
Aku membagi tawa, tangis dan juga marah denganmu karena Allah..
Tapi jika kau tidak ingin melakukannya, jangan katakan karena Allah..
".. lalu menjadilah kamu - karena nikmat Allah - orang-orang yang bersaudara." (QS. Ali Imran : 103)
"Seorang mukmin adalah orang yang mengasihi dan dikasihi, dan tidak ada kebaikan pada orang yang tidak mengasihi dan tidak dikasihi." (HR. Ahmad, Thabrani dan Hakim)
"Barangsiapa dikehendaki Allah akan memperoleh kebaikan, maka diberi-Nya teman (kekasih) yang shaleh. Jika ia lupa, maka kekasihnya itu mengingatkannya. Dan jika ia dalam keadaan ingat, maka kekasihnya itu suka menolongnya." (HR. Abu Daud)
"Tidaklah dua orang itu saling berkasih-kasihan karena Allah, melainkan bahwa yang paling dikasihi Allah adalah yang paling kuat kasihnya kepada sahabatnya." (HR. Ibnu Hibban dan Hakim)
"Sesungguhnya Allah berfirman, "Tetaplah kecintaan-Ku kepada orang-orang yang saling kunjung mengunjungi karena-Ku. Dan tetaplah kecintaan-Ku kepada orang-orang yang saling kasih mengasihi karena-Ku. Dan tetaplah kecintaan-Ku kepada orang-orang yang saling memberi karena-Ku. Dan tetaplah kecintaan-Ku kepada orang-orang yang saling tolong menolong karena-Ku." (HR. Ahmad dan Hakim).
Jika kita tidak dapat saling mencinta karena Allah, janganlah kita saling membenci karenanya.
Jika kita belum mampu untuk saling mengenal dan menempatkan apa yang baik untuk hati, apa yang baik untuk persahabatan...
Janganlah kita saling tidak mengenal karenanya..
Semoga ukhuwah ini tetap terjalin sebagaimana mestinya, apapun akhirnya nanti..
Amin Allahumma Amin..
"Dan berpeganglah kamu semua kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai." (QS Ali Imran : 103)
Hati mempunyai pintu..
Dan untuk mencapai pintu tersebut, kita harus mempunya sebuah kunci..
Ilmu mempunyai sebuah pintu..
Dan untuk memasukinya, kita juga membutuhkan sebuah kunci..
Agama juga memiliki sebuah pintu..
Dan untuk menyelami dalamnya, kita lagi-lagi membutuhkan sebuah kunci..
Jika kita kehilangan kunci itu, apakah kita akan binasa..?
Ataukah kita bahkan harus menjadi lebih kuat dalam memahami apa-apa yang bahkan untuk memasukinya saja kita belum mampu..?
Allah menciptakan kita berbangsa-bangsa agar kita dapat saling kenal mengenal di bumi ini..
Apakah Allah juga menciptakan manusia sebanyak ini untuk saling membenci..?
Jika karena Allah, kita semua bisa dipertemukan untuk saling berbagi kebaikan dan juga mengalami apa yang menjadi fitrah kita sebagai manusia..
Apakah karena Allah juga sehingga kita harus tidak saling mengenal..?
Mungkin ya..
Mungkin tidak..
Adapun hati, ilmu dan agama punya tempat tersendiri dalam diri manusia..
Ilmu dan agama seharusnya beriringan..
Akan tetapi hati selalu mengalami pasang surut..
Karena hati, kita bisa saling membenci..
Karena hati, kita bisa saling menyayangi..
Dan perubahannya bisa terjadi sekejap mata..
Allah adalah maha pembolak balik hati..
Tapi Allah tidaklah pemutus hubungan antara sesama manusia..
Jika kalian saling mencintai, katakanlah itu karena Allah..
Tapi jika kalian tidak ingin saling mengenal, jangan katakan karena Allah..
Karena kepada non muslim saja kita dianjurkan untuk mengenalnya dan mengambil apa-apa yang baik dari mereka..
Apalagi kepada kita yang sesama muslim..?
Mungkin alangkah indah seandainya kita tidak memiliki hati..
Apapun yang terjadi tidak akan mengubah apa yang telah terbangun selama ini..
Tapi alangkah indahnya kita memiliki hati..
Karena dengan itu kita bisa merasakan,
Sakit..
Bahagia..
Marah..
Kecewa..
Atau bahkan cinta..
Aku mencintaimu karena Allah..
Aku bersahabat denganmu karena Allah..
Aku berbagi ilmu dan agama denganmu karena Allah..
Aku membagi tawa, tangis dan juga marah denganmu karena Allah..
Tapi jika kau tidak ingin melakukannya, jangan katakan karena Allah..
".. lalu menjadilah kamu - karena nikmat Allah - orang-orang yang bersaudara." (QS. Ali Imran : 103)
"Seorang mukmin adalah orang yang mengasihi dan dikasihi, dan tidak ada kebaikan pada orang yang tidak mengasihi dan tidak dikasihi." (HR. Ahmad, Thabrani dan Hakim)
"Barangsiapa dikehendaki Allah akan memperoleh kebaikan, maka diberi-Nya teman (kekasih) yang shaleh. Jika ia lupa, maka kekasihnya itu mengingatkannya. Dan jika ia dalam keadaan ingat, maka kekasihnya itu suka menolongnya." (HR. Abu Daud)
"Tidaklah dua orang itu saling berkasih-kasihan karena Allah, melainkan bahwa yang paling dikasihi Allah adalah yang paling kuat kasihnya kepada sahabatnya." (HR. Ibnu Hibban dan Hakim)
"Sesungguhnya Allah berfirman, "Tetaplah kecintaan-Ku kepada orang-orang yang saling kunjung mengunjungi karena-Ku. Dan tetaplah kecintaan-Ku kepada orang-orang yang saling kasih mengasihi karena-Ku. Dan tetaplah kecintaan-Ku kepada orang-orang yang saling memberi karena-Ku. Dan tetaplah kecintaan-Ku kepada orang-orang yang saling tolong menolong karena-Ku." (HR. Ahmad dan Hakim).
Jika kita tidak dapat saling mencinta karena Allah, janganlah kita saling membenci karenanya.
Jika kita belum mampu untuk saling mengenal dan menempatkan apa yang baik untuk hati, apa yang baik untuk persahabatan...
Janganlah kita saling tidak mengenal karenanya..
Semoga ukhuwah ini tetap terjalin sebagaimana mestinya, apapun akhirnya nanti..
Amin Allahumma Amin..
Selasa, 04 Maret 2008
Etika antara tidak tega ataukah kejujuran..
Akhir-akhir ini musim buah kembali marak..
Ada duren..
Ada rambutan..
Whew, jadi pengen makan tiap hari.. :D
Namun ada saat dimana buah yang dijual itu rasanya gak seenak yang dipromosikan ama penjualnya..
Kecewa..?
So pasti..
Lalu, apakah yang harus kita lakukan..?
Ada dua tipe orang yang mungkin punya reaksi yang berbeda..
Yang pertama, dia tidak akan berkomentar macam-macam dan tetap menikmati buah yang terlanjur dibeli itu..
Pertimbangannya mungkin karena dia merasa tidak tega atau kasihan, karena buah yang dijual itu hasilnya bisa digunakan untuk menghidupi keluarganya si penjual..
Pertimbangannya adalah pengertian akan keadaan dan ketidaksengajaan..
Hasilnya..??
Meski senyum kecut menghiasi wajah, tapi tetap menebar pesona diatas "penderitaan"..
Hehehe.. ^_^
Yang kedua, kita mungkin akan langsung protes setelah mencobanya karena ini dianggap merugikan mereka sebagai pelanggan..
Ataukah ini sebagai bentuk pemberitahuan untuk menghindari kesalahan yang lebih parah..?
Mungkin juga..
Karena bisa jadi si penjual sendiri tidak menyadari bahwa buah yang dijualnya tidak seperti apa yang dipromosikan..
Ataupun memang diantara seratus buah yang kelihatan segar, memang ada beberapa yang tidak memenuhi syarat..
Jadi, bukankah mengatakan lebih baik daripada membiarkan..?
Bukankah menyampaikan lebih baik dari mendiamkan..?
Mengerti dan memahami mungkin memang baik..
Tapi tidak ada perubahan yang akan terjadi..
Tapi jika kita mengerti dan juga menyampaikan..
Mungkin akan terjadi perubahan yang lebih baik..
Bukan saja kepada kita..
Tapi juga kepada calon-calon pembeli yang lain..
Maka katakanlah..
Maka ucapkanlah..
Maka sampaikanlah..
Jangan hanya diam..
Jangan hanya bisu..
*senyum kecut yang menghiasi wajahku yang lagi nulis sambil makan jeruk asem*
cape deh.. ;))
Ada duren..
Ada rambutan..
Whew, jadi pengen makan tiap hari.. :D
Namun ada saat dimana buah yang dijual itu rasanya gak seenak yang dipromosikan ama penjualnya..
Kecewa..?
So pasti..
Lalu, apakah yang harus kita lakukan..?
Ada dua tipe orang yang mungkin punya reaksi yang berbeda..
Yang pertama, dia tidak akan berkomentar macam-macam dan tetap menikmati buah yang terlanjur dibeli itu..
Pertimbangannya mungkin karena dia merasa tidak tega atau kasihan, karena buah yang dijual itu hasilnya bisa digunakan untuk menghidupi keluarganya si penjual..
Pertimbangannya adalah pengertian akan keadaan dan ketidaksengajaan..
Hasilnya..??
Meski senyum kecut menghiasi wajah, tapi tetap menebar pesona diatas "penderitaan"..
Hehehe.. ^_^
Yang kedua, kita mungkin akan langsung protes setelah mencobanya karena ini dianggap merugikan mereka sebagai pelanggan..
Ataukah ini sebagai bentuk pemberitahuan untuk menghindari kesalahan yang lebih parah..?
Mungkin juga..
Karena bisa jadi si penjual sendiri tidak menyadari bahwa buah yang dijualnya tidak seperti apa yang dipromosikan..
Ataupun memang diantara seratus buah yang kelihatan segar, memang ada beberapa yang tidak memenuhi syarat..
Jadi, bukankah mengatakan lebih baik daripada membiarkan..?
Bukankah menyampaikan lebih baik dari mendiamkan..?
Mengerti dan memahami mungkin memang baik..
Tapi tidak ada perubahan yang akan terjadi..
Tapi jika kita mengerti dan juga menyampaikan..
Mungkin akan terjadi perubahan yang lebih baik..
Bukan saja kepada kita..
Tapi juga kepada calon-calon pembeli yang lain..
Maka katakanlah..
Maka ucapkanlah..
Maka sampaikanlah..
Jangan hanya diam..
Jangan hanya bisu..
*senyum kecut yang menghiasi wajahku yang lagi nulis sambil makan jeruk asem*
cape deh.. ;))
End of the road..
And now the end is near..
And so i face the final curtain..
Memang benar..
Tidak selamanya jalan yang lurus itu mudah untuk dilewati..
Ada saja cobaan yang mungkin bisa meruntuhkan panca indera kita satu persatu..
Mata..
Semakin melihat semakin letih jika ujung jalan yang dilalui tak kunjung kelihatan..
Telinga..
Semakin lama semakin lemah jika sayup-sayup tak kunjung terdengar kata yang menyejukkan hati..
Mulut..
Semakin lama semakin kelu saat lidah ini tak kuasa mengucapkan sepatah katapun yang mampu menyejukkan hati..
Dan hati ini sendiri..
Tak kunjung mampu menghadirkan perasaan yang bisa menjadi makna diri..
Untuk apa kau disini..
Dan untuk apa aku disini..
Sungguh alangkah indahnya jika jalan kita bisa sekedar dimaknai dengan panca indera..
Sungguh sangat menyenangkan..
Tapi di satu sisi mungkin tidak..
Niat..
Keinginan..
Ketulusan..
Mungkin berbanding terbalik dengan kemampuan..
Dan pada akhirnya, semakin panjang jalan itu maka yang semakin terlihat adalah kelemahan dan kekurangannya saja..
Don't judge the book by it's cover..
Mungkin itu hanya sekedar perlintasan kata tanpa perlu dimaknai..
And here i am..
Dengan segala kelemahanku, aku berdoa..
Keinginan..
Harapan..
Ketulusan..
Kemampuan..
Semoga semuanya bisa menjadi satu..
Dan pada akhirnya meskipun tak terlihat..
Tapi keyakinanku mampu merengkuhku lembut dan berkata..
"rasakan kelembutannya. Alirkan ke seluruh tubuhmu dan percayalah bahwa akhir dari penantian itu akan tetap ada. Sejauh apapun jalan itu, akhirnya akan sampai kepada satu akhir..
And now the end is near..
Jika mampu, ingin kuakhiri perjalanan ini dengan senyum sembari mengumpulkan apa-apa yang telah jatuh berserakan..
Dan menghimpunnya dalam asa apa adanya.."
*suatu sore mencoba memandang batas laut di kejauhan*
And so i face the final curtain..
Memang benar..
Tidak selamanya jalan yang lurus itu mudah untuk dilewati..
Ada saja cobaan yang mungkin bisa meruntuhkan panca indera kita satu persatu..
Mata..
Semakin melihat semakin letih jika ujung jalan yang dilalui tak kunjung kelihatan..
Telinga..
Semakin lama semakin lemah jika sayup-sayup tak kunjung terdengar kata yang menyejukkan hati..
Mulut..
Semakin lama semakin kelu saat lidah ini tak kuasa mengucapkan sepatah katapun yang mampu menyejukkan hati..
Dan hati ini sendiri..
Tak kunjung mampu menghadirkan perasaan yang bisa menjadi makna diri..
Untuk apa kau disini..
Dan untuk apa aku disini..
Sungguh alangkah indahnya jika jalan kita bisa sekedar dimaknai dengan panca indera..
Sungguh sangat menyenangkan..
Tapi di satu sisi mungkin tidak..
Niat..
Keinginan..
Ketulusan..
Mungkin berbanding terbalik dengan kemampuan..
Dan pada akhirnya, semakin panjang jalan itu maka yang semakin terlihat adalah kelemahan dan kekurangannya saja..
Don't judge the book by it's cover..
Mungkin itu hanya sekedar perlintasan kata tanpa perlu dimaknai..
And here i am..
Dengan segala kelemahanku, aku berdoa..
Keinginan..
Harapan..
Ketulusan..
Kemampuan..
Semoga semuanya bisa menjadi satu..
Dan pada akhirnya meskipun tak terlihat..
Tapi keyakinanku mampu merengkuhku lembut dan berkata..
"rasakan kelembutannya. Alirkan ke seluruh tubuhmu dan percayalah bahwa akhir dari penantian itu akan tetap ada. Sejauh apapun jalan itu, akhirnya akan sampai kepada satu akhir..
And now the end is near..
Jika mampu, ingin kuakhiri perjalanan ini dengan senyum sembari mengumpulkan apa-apa yang telah jatuh berserakan..
Dan menghimpunnya dalam asa apa adanya.."
*suatu sore mencoba memandang batas laut di kejauhan*
Sabtu, 01 Maret 2008
Seperti berada di dunia yang berbeda..
Assalamualaikum wr. Wb.
Akhir-akhir ini saya udah jarang Mp ma Ym lagi, dikarenakan kesibukan kerja yang amat sangat. Kadang tekanan itu terasa menghimpit dan menguras keluar isi otak dan juga tenagaku. Deadline yang hampir gak masuk akal terus mengejarku setiap hari. Untunglah ketabahanku masih selalu mengiringi. Toh kupikir-pikir lagi, ini demi masa depanku juga. Makasih juga untuk yang selalu mendukung dan selalu menyejukkanku dengan nasehat-nasehatnya. Thanks saudaraku.
Oh ya, btw selama aku jarang berkumpul dengan dua dunia yang kusebut diatas sebelumnya, aku telah melewatkan banyak kabar tentang sahabat-sahabat Mpers sekalian. Aku merasa seakan-akan baru kembali dari dunia lain.. :)
Ada kesedihan..
Ada kebahagiaan..
Ada kebimbangan..
Untuk yang sedang bersedih, ingatlah bahwa cobaan hanyalah pertanda bahwa kita masih diperhatikan oleh-Nya. Percayalah, dibalik kesedihan ada kebahagiaan. Kita memang hanyalah makhluk yang kecil. Dan semoga hikmah itu bisa didapatkan, dengan selalu mendekatkan diri kepada-Nya, dan janji-Nya adalah surga.
Untuk yang sedang berbahagia, selamat, selamat, dan sekali lagi selamat. Semoga kebahagiaan di dunia ini akan berketerusan di akhirat nanti. Amin.
Awalnya kaget juga sih, tapi yang tersisa pada akhirnya adalah rasa kebahagiaan yang tak terbayangkan. Selamat ya. Sekali lagi selamat. :)
Dan untuk yang sedang dalam kebimbangan untuk menentukan jalan atau menemukan jati diri, ketahuilah bahwa jalan itu pasti ada.
Apakah kamu mampu untuk bersabar untuk menyusurinya..?
Apakah kamu tetap tabah untuk menitinya..?
Jika apa yang dilakukan adalah kebaikan, yakinlah bahwa sepanjang apapun jalan itu, ujungnya pasti adalah kebaikan. Jangan letih dan bingung. Semoga petunjuk tetap menaungi langkahmu.
Pada akhirnya hanya kebaikanlah yang kuharapkan dan kudoakan untuk para Mpers sekalian dalam kesibukan dan keletihanku menjawab tuntutan pekerjaan. Semoga Allah merahmati kita semua dan apa yang kita kerjakan. Amin. Amin. Allahumma amin.
Akhir-akhir ini saya udah jarang Mp ma Ym lagi, dikarenakan kesibukan kerja yang amat sangat. Kadang tekanan itu terasa menghimpit dan menguras keluar isi otak dan juga tenagaku. Deadline yang hampir gak masuk akal terus mengejarku setiap hari. Untunglah ketabahanku masih selalu mengiringi. Toh kupikir-pikir lagi, ini demi masa depanku juga. Makasih juga untuk yang selalu mendukung dan selalu menyejukkanku dengan nasehat-nasehatnya. Thanks saudaraku.
Oh ya, btw selama aku jarang berkumpul dengan dua dunia yang kusebut diatas sebelumnya, aku telah melewatkan banyak kabar tentang sahabat-sahabat Mpers sekalian. Aku merasa seakan-akan baru kembali dari dunia lain.. :)
Ada kesedihan..
Ada kebahagiaan..
Ada kebimbangan..
Untuk yang sedang bersedih, ingatlah bahwa cobaan hanyalah pertanda bahwa kita masih diperhatikan oleh-Nya. Percayalah, dibalik kesedihan ada kebahagiaan. Kita memang hanyalah makhluk yang kecil. Dan semoga hikmah itu bisa didapatkan, dengan selalu mendekatkan diri kepada-Nya, dan janji-Nya adalah surga.
Untuk yang sedang berbahagia, selamat, selamat, dan sekali lagi selamat. Semoga kebahagiaan di dunia ini akan berketerusan di akhirat nanti. Amin.
Awalnya kaget juga sih, tapi yang tersisa pada akhirnya adalah rasa kebahagiaan yang tak terbayangkan. Selamat ya. Sekali lagi selamat. :)
Dan untuk yang sedang dalam kebimbangan untuk menentukan jalan atau menemukan jati diri, ketahuilah bahwa jalan itu pasti ada.
Apakah kamu mampu untuk bersabar untuk menyusurinya..?
Apakah kamu tetap tabah untuk menitinya..?
Jika apa yang dilakukan adalah kebaikan, yakinlah bahwa sepanjang apapun jalan itu, ujungnya pasti adalah kebaikan. Jangan letih dan bingung. Semoga petunjuk tetap menaungi langkahmu.
Pada akhirnya hanya kebaikanlah yang kuharapkan dan kudoakan untuk para Mpers sekalian dalam kesibukan dan keletihanku menjawab tuntutan pekerjaan. Semoga Allah merahmati kita semua dan apa yang kita kerjakan. Amin. Amin. Allahumma amin.
Kamis, 28 Februari 2008
Mobile9 - Free ringtones, free themes, free wallpapers, free videos, free software, free games for mobile phone
http://www.mobile9.com
Banyak Aplikasi Hp maupun Games gratis yang bisa didownload disini. Jangan lupa untuk registrasi, agar limit downloadnya gak terbatas. ^.^"
Banyak Aplikasi Hp maupun Games gratis yang bisa didownload disini. Jangan lupa untuk registrasi, agar limit downloadnya gak terbatas. ^.^"
Rabu, 13 Februari 2008
Sepi.. ^.^
Beginilah jadinya kalo tidurnya kecepetan. Jam segini udah bangun. Sepi deh akhirnya. Mau celingukan ke mp teman2, takutnya dibilang penampakan. Walhasil diem aja di home ngitung bintang.. Wuaaaahhmm.. :D
Langganan:
Komentar (Atom)